CINTA LINGKUNGAN, SISWA CIPTAKAN PESTISIDA ORGANIK



Siswa SMP Negeri 2 Kebomas Me launching, pestisida organik yang diberi merk Dua Kebo. Pestisida hasil formulasi siswa ini dikemas dalam ukuran jirigen kecil ukuran 2 liter. Tentu tak seperti kebiasaan launching produk pabrikan. Pestisida cap dua kebo produk siswa ini diperkenalkan dengan perhelatan yang sederhana, kepada sesama teman sekolah. Tidak ada musik, tidak ada gemerlap lampu dan tanpa dihadiri oleh kalangan usaha.

Kendati demikian, semangat siswa untuk memperagakan pembuatan pestisida ramah lingkungan patut diacungi jempol. Didepan kawan-kawannya sendiri mereka menjelaskan satu persatu komposisi maupun indikasinya. Bahkan tak hanya itu, mereka juga piawai mempromosikan produk karyanya itu agar dibeli. Melihat kenyataan ini, Kasek SMP Kebomas 2, Yudo Siswanto hanya menyunggingkan senyum. Entah lucu entah puas yang jelas dari binarnya tampak ada rasa kebanggaan.

Menurut Yudo, latar belakang pembuatan pestisida organik ini atas keprihatinan siswa pada tanaman yang daunnya rusak berlobang bahkan ada yang mati diserang ulat. Memang di sekolah yang berpredikat sekolah adiwiyata ini setiap siswa mempunyai tanggung jawab pada tanaman yang ada. Disini telah tumbuh tanaman sebanyak 10059 batang tanaman yang terdiri dari 215 jenis. Memang tanaman disini tumbuh subur karena dipupuk dengan pupuk buatan sendiri. “Siswa juga telah mahir membuat pupuk cair dan memproses kompos sendiri” ujar Yudo.

Atas keprihatinan serta rasa sayang akan tanaman, maka dicarilah formula pestisida yang ramah lingkungan.”kami memang melarang menyemprot racun (pestisida non organic) di lingkungan sekolah. Dengan bantuan beberapa guru pembimbing serta mencari refrensi dari buku, literature maupun dari internet sebagai refrensi, maka jadilah pestisida non organi cap dua kebo yang bahannya didapat dari halaman sekitar sekolah.

Pada pelaksaan demo pembuatan pestisida organik, Ribut dan Aisyah yang dibantu beberapa temannya dengan piawai memperagakannya. “ apa itu yang diblender ? ini jahe, lengkuas, kencur, kunyit, temulawak, temugiring masing-masing sebesar jempol. Lalu bawangputih, bawangmerah, sere, daun mindi/mimba, dan brotowali. Setelah selesai diblender lalu ditambah bahan lain. Satu adonan ‘jouce’ ini cukup untuk 2 liter dengan biaya produksi sebesar Rp. 17.000,-“ jelas Ribut dan Aisyah bergantian.
Ramelan, salah sorang guru yang mencobakan hasilnya dengan cara menyemprotkan produk tersebut ke ulat pohon, langsung ulatnya diam tak bergerak. “pemakaian pestisida ini harus dicampur dengan air sesuai perbandingan 1 : 100, ini bisa anda lihat buktinya” ujar Ramelan sambil menunjuk kearah ilat yang langsung mati.

Untuk sementara, pestisida ini kami pasarkan untuk kalangan sendiri. Kami juga tidak menutup kemungkinan kalau ada pihak lain yang membutuhkan, namun sampai saat ini kami belum menentukan harga nominal pemasaran. Tujuan awal kami hanya memberi pembelajaran tentang cinta tanaman, cinta lingkungan sehat, serta untuk memotifasi kreasi siswa, ujar Kepala Sekolah yang telah membawa SMP negeri I Kedamean dan SMP Negeri 2 Kebomas Gresik meraih penghargaan Adiwiyata. (sdm, Humas Pemkab Gresik)

0 comments:

Post a Comment