LOMBA DAYUNG TRADISIONAL NELAYAN PANTURA



Suasana perayaan hari kemerdekaan di sungai Kalimering Desa Manyar Sidorukun Kecamatan Manyar, Gresik jawa timur (16/08/2009,) tampak berbeda dengan perayaan di perkampungan pada umumnya. Pasalnya, di tempat ini, ke 34 perahu nelayan yang setiap harinya berpacu menangkap ikan di laur, kini harus berpacu mencapai garis finish lebih cepat dari kelompok nelayan lainnya.

Berbeda dengan kejurnas dayung yang biasanya terdiri dari belasan orang dalam 1 kelompok, kali ini hanya dengan 3 anggota pendayung saja untuk tiap kelompok. Meski demikian, jarak 350 meter dari garis start menuju finish, mampu di arungi para nelayan dengan rata-rata 3 sampai 5 menit saja.

Nama-nama kelompok dayung pun terdengar unik, misalnya, kelompok Joko Samudro, Buaya Putih, Putune Mbah Surip, Ana’e Manohara, dan lain sebagainya.

Suasana perayaan 17 Agustus pun menjadi lebih menarik tatkala para nelayan justru saling sikut untuk mengalahkan lawannya, yang justru berbeda dengan keseharian mereka di tengah laut yang akrab dan bersahabat.

Meski hanya berhadiah alat-alat elektronik seperti televisi dan kipas angin, namun, para peserta cukup antusias mengikutinya. Apalagi, kegiatan ini juga sebagai salah satu kegiatan pembinaan olah raga dayung di mana, gresik telah mengirimkan dutanya pada even-even nasional maupun internasional.

“Selama ini, kita telah mengirimkan duta bukan hanya ditingkat regional, bahkan di tingkat nasional maupun international” Ujar Sastro Suwito, Ketua Koni Gresik saat di temui usai penyerahan hadiah.

Kegiatan lomba dayung tradisional ini sebenarnya telah berlangsung lebih dari 3 tahun lamanya yang diadakan setiap peringatan hari kemerdekaan. Rencananya, kegiatan serupa akan terus di lestarikan di tahun-tahun mendatang.

Bagi para nelayan, lomba dayung tardisional ini bukanlah sekedar hanya mengejar hadiah, tapi lebih dari itu, sebagai wujud kegembiraan atas kemerdekaan yang telah di rasakannya dalam 64 tahun lamanya.

0 comments:

Post a Comment