OKOL, GULAT TRADISIONAL MEMINTA HUJAN



Beragam cara di gunakan orang dalam meminta hujan kepada sang maha kuasa saat memasuki musim kemarau. Di Gresik Jawa Timur (02/08/2009), warga setempat meminta hujan dengan menggelar lomba gulat tradisional yang di kenal dengan nama, Okol. Uniknya, peserta gulat bukan hanya di dominasi kaum lelaki, anak-anak dan ibu-ibu, juga ambil bagian dalam tradisi tahunan tersebut.

Suasana kemeriahan, tampak sejak memasuki perbatasan desa Setro Kecamatan Menganti, Gresik. Bahkan, warga berduyun-duyun di lapangan desa setempat, bukan untuk berunjuk rasa, tapi untuk menyaksikan secara langsung pertandingan Okol, sebuah perhelatan gulat tradisional yang sudah berlangsung secara turun temurun.

Kemeriahan tradisi tahunan yang di selenggarakan setiap memasuki musim kemarau ini, terpelihara dengan rapi dan masih terlihat tradisional. Di antaranya, arena ring yang di gunakan terbuat dari tumpukan jerami yang di tutup karung. meski demikian, suasana kemeriahan, tampak jelas di wajah warga yang sejak pagi menunggu perhelatan tahunan ini.

Guna menghindari efek negatif dari gulat ini, panitia menetapkan sejumlah peraturan. di antaranya, di larang meninju lawan, mengangkat tubuh lawan serta mencederai lawan dengan membelitkan kaki.

Biasanya, sebelum bertanding, para peserta di beri selendang warna merah, sementara lawannya menggunakan warna hitam. perhelatan gulat ini, di pimpin 2 orang wasit yang dalam istilah warga setempat di kenal dengan nama pelandang.

Untuk tampil dalam gulat ini, peserta terlebih dahulu harus mencari lawan seimbang. baik postur tubuh, usia dan tinggi badan. Setelah mendapat pengesahan pelandang, barulah peserta bisa memperlihatkan kebolehannya dalam bertarung di atas tumpukan jerami ini.

Seperti yang di ungkapkam salah saeorang peserta wanita bernama Ayu, teknik bergulat Okol tidaklah mudah. “Awalnya sulit, tapi karena sudah biasa, ikut lomba Okol jadi menyenangkan”. Ujarnya.

Para peserta berasal dari sejumlah daerah di sekitar Gresik. Dalam gulat kali ini, tercatat sedikitnya 30 pasang pegulat, ambil bagian. Uniknya, peserta gulat bukan hanya di dominasi kaum lelaki, anak-anak dan ibu-ibu, juga ambil bagian dalam tradisi tahunan ini.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, tradisi gulat tradisional, telah berlangsung ratusan tahun yang silam. konon, kekeringan panjang perna melanda kawasan desa ini. sehingga, saat turun hujan pertama, warga kemudian meluapkan rasa kegembiaraannya dengan bergulat di atas tumpukan jerami.

“Tradisi ini bermula saat ratusan tahun yang lalu saat warga desa Setro mengalami kemarau panjang. Begitu hujan tiba, warga bersenang-senang dengan bergulat di atas jerami” Kata Bambang Suprayitno, Tokoh Masyarakat setempat.

Tahun 2008 lalu, gulat Okol di tunjuk Dinas Pariwisata setempat, menjadi duta Jawa Timur dalam Pekan Budaya Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan meraih nominasi terbaik tingkat nasional.

Di Gresik sendiri, pesta sedekah bumi dengan gulat tradisionalnya, ada di desa Setro dan sejumlah desa di sekitarnya. (b86)

0 comments:

Post a Comment