TRADISI BERBUKA PUASA DENGAN KOLAK AYAM



(Gresik-86) Setiap menjelang malam tanggal 23 Ramadhan, masyarakat desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur, merayakan tradisi berbuka puasa dengan masakan kolak ayam. Tradisi yang sudah berusia lebih dari 500 tahun tersebut sangat menarik, justru karena lamanya tradisi ini berlangsung.

Kesibukan kaum lelaki warga desa Gumeno terlihat sejak pagi hari (12/09/2009) di halaman Masjid Jamik desa setempat. Mereka sedang menyiapkan racikan bumbu kolak ayam yang akan menjadi menu takjil berbuka puasa. Sebagaimana kolak pada umumnya, kolak ayam warisan Sunan Dalem, putra Sunan Giri tersebut, tetap didominasi rasa manis. Hanya saja, tidak ada Pisang, Ubi atau Singkong sebagaimana kolak pada umumnya. Justeru yang menjadi ganti adalah daging ayam yang diiris kecil-kecil.

untuk bumbunya terdiri dari santan Kelapa, Daun Bawang dan Gula merah sebagai pemanis. Semua bumbu dimasak menjadi satu selama lebih dari tiga jam, menggunakan bahan bakar kayu. Dalam peraya-an tahun ini, tak kurang dari 9 wajan besar, digunakan untuk memasak racikan khas Gresik ini.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, juru masak kolak ayam, harus kaum lelaki, sesuai petunjuk Sunan Dalem. Juru masak ini, rata-rata telah mewarisi keterampilam memasak kolak ayam secara turun temurun. Meski tanpa di bayar, mereka terlihat senang bisa menyajikan takjil kolak ayam.

Sejarah pertama kolak ayam bermula pada tahun 1541 Masehi ketika Sunan Dalem, pendiri masjid Gumeno, menderita sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Tak satu pun obat yang mampu menyembuhkan penyakit sang Sunan. Akhirnya, Sunan Dalem mendapat petunjuk dari allah SWT agar membuat suatu masakan obat, dengan racikan daging ayam jago, bawang daun secukupnya, gula merah atau gula jawa, jinten dan kelapa untuk dibuat kolak. setelah berbuka puasa dengan masakan tersebut, Sunan Dalem sembuh. kejadian tersebut bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan.

Sebagai ungkapan rasa syukur, penduduk desa Gumeno membuat kolak ayam dan menikmatinya bersama-sama di masjid pada setiap malam ke-23 bulan Ramadhan. Peringatan Berbuka puasa dengan takjil kolak ayam kali ini, merupakan yang ke-559 kalinya.

Pada tahun ini peraya-an kolak ayam membutuhkan 115 ekor ayam jantan, 500 Kilo Gram gula merah, 100 kilogram jinten, 600 butir kelapa, 2 kwintal daun bawang, dan 1.250 liter air. Biaya peraya-an ini, menghabiskan dana 15 juta rupiah yang dipungut dari sumbangan masyarakat desa Gumeno.

Masyarakat desa Gumeno sendiri menamai kolak ayam dengan nama, Sanggringan, atau raja yang sembuh dari sakit. Dengan demikian, warga meyakini, kolak ayam bisa mengobati segala macam penyakit. “Keyakinan akan khasiat kolak ayam atau Sanggringan sudah melekat di masyarakat”. Ujar Ilyas, salah seorang tokoh masyarakat.

Setiap tahun, ribuan orang sengaja datang ke tempat ini, hanya ingin mencicipi kolak ayam hasil masakan kaum lelaki desa Gumeno. Mereka berasal dari dalam dan luar gresik seperti Surabaya, Lamongan, Sidoarjo dan Tuban.

Dengan paduan bahan masakan ayam, daun bawang, santan dan gula, rasa kola ayam sangat unik dan variatif dengan dominasi rasa manis bercampur gurih rasa bawang dan ayam. “Rasanya unik mas, bercampur baur karena bahannya yang kompleks, hingga membuat saya berkeringat”. Kata Wahyudi Husein, salah seorang penikmat kolak ayam asal Suarabaya.

Wahyudi menambahkan, Kolak Ayam adalah tradisi bangsa Indonesia yang harus di lestarikan. Meski kita sedang ribut dengan Malaysia karena klaim Malaysia atas sejumlah budaya asli Indonesia, tapi kolak ayam tidak akan bisa di klaim." Hanya masyarakat desa Gumeno yang bisa membuat kolak ayam, masyarakat di luar Gumeno tidak akan bisa, apalagi Malaysia". Tambahnya.

Bagi warga desa Gumeno, tradisi berbuka puasa dengan kolak ayam tak hanya sekedar melestarikan budaya saja, tapi lebih dari itu, adalah membina rasa kebersamaan antar kaum sesame muslimin. (86)



0 comments:

Post a Comment