MANFAATKAN BESI BEKAS MENJADI PANCI SERBA GUNA



(Gresik-86) Besi bekas, di tangan seorang perajin daur ulang besi di Gresik Jawa Timur, mampu di sulap menjadi panci serba guna. Selain membuka lapangan pekerjaan baru, produk industri daur ulang tersebut, dikenal cukup ramah lingkungan, karena semua proses dilakukan secara tradisional.

Sebelum didaur ulang, tumpukan besi beksa terlihat berserakan di gudang penyimpanan di sentra perajin besi bekas, di desa Kawis Anyar Kecamatan Kebomas, Gresik.

Besi bekas itu, dikumpulkan dari para pemulung di wilayah gresik dan sekitarnya, diantaranya barang bekas alat rumah tangga, maupun otomotif.

Agar menghasilkan produk yang berkualitas, sebelum proses peleburan, terlebih dahulu dilakukan pemilahan besi, sesuai jenisnya. Besi bekas kemudian di panaskan hingga meleleh untuk kemudian di cetak sesuai bentuk dan ukuran yang di inginkan.

Menurut Abdur Rauf, perajin daur ulang besi, pemisahan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk hasil daur ulang. Jika produk-produk berkualitas tinggi tercampur dengan produk berkualitas rendah, maka kualitas produk yang dihasilkan akan turun karena pencampuran yang kurang tepat.

Perabot rumah tangga utama yang di produksi perajin daur ulang besi adalah panci serba guna, di mana bentuk tutup panci mirip wajan hingga bisa mengambil alih fungsi sebagai alat penggorengan.

Abdul rauf memulai usaha itu berawal saat dirinya keluar dari dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik besi dan alumunium. Keahlian dalam mengolah besi yang di peroleh dari pabrik menjadi bekalnya membuka usaha baru di kampungnya, hingga mampu meraih sukses dengan mempekerjakan 60 orang karyawan.


“Sejak pabrik menutup penjualan secara bebas, saya mulai merintis usaha ini.” Ujar Abdul rauf.

Panci serbaguna, merupakan produk unggulan, perajin daur ulang besi dengan harga yang relatif murah, yakni Rp 150.000 perset.

Meski semua proses pembuatan dilakukan secara tradisional, tetapi produk yang dihasilkan cukup diminati masyarakat, terbukti dengan wilayah pemasaran, yang telah menjangkau hampir seluruh wilayah di indonesia. Yang lebih penting, pembuangan energi dari semua proses produksi, tergolong ramah lingkungan meski lokasi usahanya berada di tengah pemukiman warga. (86)

0 comments:

Post a Comment