BERWISATA KE DESA ADENIUM



Di samping terkenal sebagai kota industri, Kabupaten Gresik Jawa Timur juga di kenal sebagai kota Adenium, karena di sana terdapat 5 desa yang di kenal sebagai kawasan desa Adenium. Sejak booming Adenium melanda Indonesia tahun 2003 lalu, masyarakat ke 5 desa tersebut, tidak menyianyiakan kesempatan berbisnis Adenium hingga mampu merubah kondisi desa mereka dari status desa tertinggal menjadi desa yang maju.

Sejuk dan asri, itulah kesan awal saat memasuki kawasan wisata desa Adenium di desa Karang Andong Kecamatan Driyorejo. Di jalan raya kecamatan sepanjang 13 kilo meter ini, terdapat 5 desa yang sejak boming bunga Adenium tahun 2003 lalu, berkembang sebagai kawasan wisata Adenium. Ke 5 desa tersebut adalah, Karang Andong Kecamatan Driyorejo, Banyu Urip dan Manunggal Kecamatan Kedamean, serta Desa Suko dan Kesamben Wetan Kecamatan Wringinanom.

Sebelumnya, tak banyak orang yang mengenal ke 5 desa yang berjarak 30 kilo meter dari pusat kota Gresik ini. Namun, seiring perjalanan waktu, desa wisata Adenium pun makin dikenal masyarakat. Bukan hanya di Jawa Timur, pencinta Adenium dari luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera berdatangan ke tempat ini. Pada september 2007, Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Timur memberikan penghargaan anugerah wisata jatim kategori The Most Exciting Award untuk kelompok wisata minat khusus.

Petani dan pedagang kamboja jepang ini terus tumbuh bagai jamur di musim hujan. Perhimpunan Pencinta Adenium Indonesia (PPAI) cabang Gresik mencatat ada 1.500 petani dan 750 pedagang yang kini menggeluti usaha minat khusus ini.

Di desa Karang Andong misalnya, 80 persen warganya menggeluti usaha Adenium mulai dari petani, pedagang hingga penjual pupuk Adenium. Salah satu petani Adenium adalah Sumardi, yang banting setir dari petani padi menjadi petani Adenium. Dengan di bantu 2 orang karyawannya, Sumardi terus mengkoleksi berbagai jenis Adenium.

Agar tidak kalah dalam persaingan, Sumardi terus mengikuti perkembangan munculnya variates-variates baru Adenium, mulai Adenium Arabikum hingga Adenium Socrotanum. Bahkan, dalam sebulan, bisa muncul 2 variates baru yang unik dan elok, mulai Adenium dengan bunga pink, hitam, kuning hingga ungu. Berbeda dengan jenis tanaman hias lainnya, munculnya variates-variates baru ini mengakibatkan bunga Adenium akan terus di minati.

Menurut Sumardi, banyaknya jumlah petani Adenium di 5 desa kawasan wisata Adenium yang mencapai 1.500 orang, menyebabkan angka penjualan saat ini turun. Biasanya, pasar akan kembali bergairah pada musim kemarau, di saat Adenium mulai berbunga. “Pasar akan kembali bergairah di musim kemarau, saat Adenimum kembali berbunga”, ujar Sumardi

Pemasaran Adenium sendiri saat ini telah merambah sebagian besar kota di tanah air mulai Papua hingga sumatera. Untuk pulau jawa, biasanya pembeli datang langsung ke lokasi ini.

Harga jual Adenium bervariasi antara 10 ribu hingga belasan juta rupiah tergantung jenis dan usianya.

Di samping menggeluti usaha bertni Adenium, sebagian warga ada yang memanfaatkan peluang dengan menjual pupuk Adenium. Bahkan, omset penjualan pupuk organik ini, tak kalah dengan penjualan Adenium. Salah satu yang menggeluti usaha ini adalah Kan’an. Dengan bermodal coba-coba, kan’an mampu mampu melayani kebutuhan pupuk Adenium hingga puluhan kwintal perharinya. “Penjualan pupuk cukup lumayan, terutama jika pasar adenium sedang bergairah”. Ujarnya

Di hari libur, banyak wisatawan yang sengaja meluangkan waktunya menikmati ke elokan bunga Adenium. Namun, sayang, pemerintah kabupaten Gresik belum serius mengembangkan kawasan wisata baru ini. Pasalnya, sarana peristirahatan dan pusat-pusat makanan yang menjadi magnet para wisatawan berlama-lama di tempat ini, belum tersedia. (86)

0 comments:

Post a Comment