GASING, PERMAINAN TRADISIONAL YANG NYARIS PUNAH



Gasing merupakan alat permainan terbuat dari berbagai jenis kayu, mulai bambu hingga batok kelapa. Mainan tersebut mampu berputar secara berkeseimbangan pada satu titik setelah digerakkan dengan seutas tali. Dahulu, Gasing kerap dimainkan anak-anak dan orang dewasa. Bahkan, Gasing pernah dijadikan media meramal nasib.

Seiring membanjirnya produk mainan modern, permainan Gasing yang oleh warga Lamongan di kenal dengan nama kekehan tersebut, secara perlahan mulai di tinggal peminat (19/01/2010.)

Abdul Rohim, warga desa Tunggul Kecamatan Paciran, Lamongan Jawa Timur adalah satu-satunya pengrajin Gasing di Lamongan. Rohim sendiri setia menjadi pengrajin Gasing sejak 15 tahun silam. Awalnya, pria berusia 42 tahun tersebut membuat Gasing dengan alat seadanya.

Setelah banyak alat pemotong kayu modern, Rohim pun mulai membuat Gasing dengan alat yang lebih canggih. Hasilnya, 40 buah Gasing bisa ia ciptakan dalam waktu satu hari.

Ayah 2 anak tersebut biasanya menggunakan kayu akasia dan kayu asam untuk membuat Gasing. Namun saat ini, kedua jenis kayu tersebut sulit untuk dicari.

Proses pembuatannya sederhana, setelah dibentuk dengan sebilah pemahat, Gasing kemudian diwarna dengan spidol. Setelah itu Gasing di beri paku pada ujungnya agar dapat berputar dengan cepat dalam waktu lama.

Harga satu buah Gasing 4000 rupiah hingga 10.000 rupiah, tergantung besar kecilnya. Rohim mengaku satu bulan bisa meraup keuntungan hingga tiga juga rupiah.

Omzet tersebut akan meningkat jika memasuki masa liburan sekolah. Tiap hari rumahnya selalu dibanjiri anak-anak yang membeli Gasing untuk beradu ketangkasan, ,

Gasing buatan Rohim merupakan Gasing khas Lamongan, yakni berbentuk bulat mirip jantung sehingga dinamakan Gasing jantung. Namun, Rohim sendiri masih berminat mengembangkan berbagai model Gasing.

Selain modal yang terbatas, kendala pengembangan usaha ini adalah semakin langkanya pohon akasia yang menjadi bahan utama Gasing. “Pohon akisia mulai jarang, padahal, gasing dari kayu akasia sangat bagus”. Ujar Rohim.

Selain masa liburan, omzet Rohim juga terdongkrak sejak pemerintah memberikan perhatian khusus untuk pelestarian gasing.

Bagi Rohim, membuat Gasing bukan hanya sekedar memperoleh keuntungan materi belaka. Tapi lebih dari itu, untuk melestarikan warisan nenek moyang agar tidak di klaim sebagai warisan budaya bangsa lain.

0 comments:

Post a Comment