NILAI ARTISTIK AKAR BAMBU DI TANGAN PERAJIN KLATEN



Jika akar bambu di anggap sebagai limbah yang tak bermanfaat bagi sebagian orang,. Maka tidak demikian bagi para perajin di Jalan Karangwuni Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Mereka justru mampu berkreasi dengan menyulap akar bamboo menjadi berbagai souvenir cantik yang bernilai tinggi.

Wahyu warga desa Jambu kecamatan Ceper mampu menyulap akar bambu menjadi souvenir bernilai artistik seni yang tinggi berbentuk bebek, angsa, sapi, patung dan topeng kepala manusia. Hasil kerajinan mereka telah menembus pasaran luar negeri, misalnya Amerika Serikat dan Belanda.

Membuat kerajinan ini, mula-mula, akar bamboo di potong menjadi beberapa bagian sesuai ukuran yang di inginkan. Salah satu potongan di bentuk mirip bentuk hewan atau souvenir lainnya yang di inginkan sepeti angsa atau babi. Untuk menonjolkan cirri khas akar bamboo, Wahyu sengaja membiarkan bagian akar bamboo tidak di haluskan agar masih terlihat bagian asli akar.

Meski proses pembuatannya terlihat mudah, tapi tunggu dulu, butuh keahlian khusus dalam melihat bentuk akar bambu yang bisa di sesuaikan dengan model souvenir. Sebab, sebagian akar bambu, ada yang sesuai untuk di bentuk seperti kepala manusia ayau di bentuk mirip angsa.

Wahyu menuturkan, telah merintis usaha secara turun temurun dari orang tuanya. Pada awalnya, hasil buah tangan mereka mendapat cemooh dan tak disambut baik oleh para konsumen. Namun, hal itu tak membuat mereka berputus asa, melainkan tetap tekun dan terus memperbaiki produksi. Dengan tabah mereka kemudian menjajakan kerajinan tersebut. Mereka berkeliling, dari dalam kota hingga ke luar daerah, misalnya Solo, Wonogiri, dan Yogyakarta.

Saat ini, Wahyu telah di Bantu 5 orang karyawan hingga mampu memproduksi 300 buah kerajinan akar bamboo dalam sebulan dengan omset penjualan mencapai 7 Juta Rupiah.

Hebatnya, peminat karya mereka kebanyakan justru adalah para turis mancanegara. Patokan harga yang cukup murah sekitar Rp 15.000 hingga Rp 150.000 per buah mampu membuat omzet mereka meningkat secara drastis.

Seiring meningkatnya permintaan, Wahyu terpaksa mendatangkan bahan baku dari daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, dengan harga Rp 500 per buah. Mereka juga mengeluh lantaran kini harus mencari alternatif sumber bahan baku lain. Sebab, lahan pohon bambu di Gunung Kidul telah banyak berkurang.

0 comments:

Post a Comment