PERAJIN TELOR HIAS JELANG MAULID NABI, MENUAI BERKAH



Jelang perayaan maulid nabi muhammad saw, warga Banyuwangi jawa timur memiliki tradisi unik dengan menggelar perayaan endog-endogan atau hiasan telur melalui pawai atau kirab. Kembang endok merupakan tempat untuk menghias telur matang saat akan di kirap. Akibatnya, perajin hias telor musiman di Banyuwangi menuai berkah. Berbagai motif hiasan telor dari barang bekas untuk memeriahkan perayaan maulid nabi muhammad saw, kini mulai di buru warga.

Dalam seminggu terakhir, Mariyun, warga jagalan desa rogojampi Banyuwangi Jawa Timur, terlihat sibuk di banding hari-hari biasanya. Setiap menjelang perayaan maulid nabi muhammad saw tiba. Lelaki 2 anak ini, beralih profesi sebagai perajin hiasan telor berbagai motif, seperti barong, naga dan barongsai, untuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang tinggal beberapa hari lagi.

Bahan baku yang digunakan berasal dari limbah gabus , karton dan beberapa kertas klobot, lem perekat dan beberapa cat sebagai pewarna motif.

Untuk membuat barongsai,pertama tama di butuhkan beberapa kertas-kertas yang telah di ukur selanjutnya di potong sesuai ukuran. Agar tampil lebih garang dan menyerupai gambar aslinya,bagian kertas yang telah di potong selanjutnya di tekuk melenggkung dan di hiasi oleh spon yang telah di potong dengan model begerigi dengan warna spon yang mencolok untuk menarik perhatian serta sesuai dengan motif wajah barong khas Banyuwangi.

Setelah tampilan kepala barongsai selesai di buat, selanjutnya bagian tersebut di tempelkan ke bagian atas kepala barongsai,yang juga terbuat dari spon.untuk dapat membuka tutup mulut barongsai, mariyun,mengikatkan tali di bagian atas mulut barongsai. Sehingga jika tali tesebut di tarik dan di kendurkan maka mulut tesebut akan buka tutup.

Meski bersifat musiman, hasil menekuni pembuatan kerajinan hias telor ini, menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. Dalam sehari, rata-rata mampu menghasilkan dua ratus hingga tiga ratus ribu ribu rupiah.

Dalam sehari tidak kurang dari dua ratus buah kerajinan hias telor motif barong ini laku terjual, dengan harga tujuh hingga delapan ribu rupiah perbuahnya, tergantung pada motif dan tingkat kesulita pembuatannya.

Menurut Mariyun, hias telor motif barong adalah yang paling di gandrungi warga di Banyuwangi. Bahkan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, dirinya kewalahan melayani pesanan pembeli.

Ide pembuatan barongsai sendiri awalnya, hanya sekedar coba coba sekitar sepuluh tahun yang lalu. Namun permintaan jenis hiasan tersebut tiap tahun di saat bulan maulid terus meningkat, bahkan di tahun ini merasa kuwalahan memenuhi permintaan pasar. Dalam sehari dirinya mampu membuat hiasan telor barongsai sebanyak tujuh sampai sepuluh baroangsai, dan dijual seharga lima ribu rupiah untuk setiap buahnya. “Alhamdulillah, respon pasar sangat positif”, ujarnya sambil tersenyum.

Kerajinan hias telor maulid hasil karya Mariyun ini tidak hanya laku di pasaran lokal Banyuwangi. Namun di beberapa kabupaten tetangga, seperti Situbondo, Jember, Bondowoso serta beberapa kota di Jawa Timur juga banyak yang tertarik dengan hias telor motif barong hasil karya tangan dingin Mariyun.

Desa Rogojampi selama ini terkenal sebagai sentra pengerajin telur hias, hampir semua warga rata-rata mampu membuat ratusan bunga hias telur hias. Semakin bagus telor hias maka semakin mahal harganya. Bunga hias telur adalah tempat untuk menghias telur matang yang biasanya dipakai saat perayaan maulid nabi. Hal ini sengaja untuk semakin menambah keunikan bentuk serta jenis bunga hias telur saat perayaan maulid nabi nanti.

Sementara itu,para pedagang dadakan hiasan telur juga meraup untung di saat menjelang maulid nabi.untuk satu hiasan barong saja para pedagang menjual sepuluh ribu sampai lima belas ribu rupiah. Saat ini,ratusan pedagang telur hias selalu menjamur di sepanjang jalan yang menuju kabupaten Banyuwangi maupun arah keluar Banyuwangi untuk menjajakan dagangannya.

2 comments:

  1. Terus apa bedanya dengan Telur Paskah???
    Tradisi yang aneh... Islam itu dibangun di atas Ilmu gan.
    Man tasyabaha bo qoumin fahuwa minhum..

    ReplyDelete
  2. aneh...tradisi kok menyerupai kebiasaan nasrani sech...

    ReplyDelete