ABON DURI BANDENG, KAYA KALSIUM PENCEGAH OSTEOPOROSIS



Duri ikan Bandeng selama ini dibuang dan dianggap tidak bermanfaat karena mengganggu kenikmatan daging ikan Bandeng yang lezat. Padahal, duri ikan Bandeng bisa diolah menjadi makanan sejenis abon. Disamping rasanya yang gurih, duri ikan Bandeng kaya akan kalsium sehingga bisa mencegah tulang keropos terutama pada kaum wanita usia lanjut.

Agar bisa di nikmati dengan baik, Umi Hayati, seorang pengusaha ikan Bandeng di Jalan Profesor Yohanes Sagan Yogyakarta, berhasil memproduksi abon berbahan baku utama duri ikan Bandeng. Selain untuk camilan, abon duri Bandeng sangat cocok dikomsumsi karena mempunyai kandungan kalsium yang sangat tinggi dan baik untuk pertumbuhan tulang.

Tak heran, jika abon produksi Umi Hayati hayati mulai merambah pasar di sejumlah kota di Indonesia seperti Semarang, Solo dan Pati.

Cara pembuatannya cukup sederhana. Duri- duri ikan Bandeng ditambah beberapa ikan Bandeng yang masih utuh dikukus bersamaan dalam sebuah panci selama bebera menit untuk melunakan duri-duri ikan Bandeng. Duri-duri yang telah dikukus selanjutnya digoreng hingga kering, dan dihaluskan dengan blender.

Duri-duri yang sudah dihaluskan, dicampur dengan daging Bandeng yang sudah dihaluskan pula. Selanjutnya, campuran tersebut diberi bumbu perasa, hingga jadilah abon duri ikan Bandeng siap saji.

Ide Umi Hayati hayati dalam membuat abon duri Bandeng, berawal dari informasi seorang dokter kenalannya yang mengatakan bahwa duri ikan Bandeng memiliki kalsium yang sangat tinggi dan baik untuk dikomsumsi terutama para orang tua untuk mencegah osteoporosis. Kemudian Umi Hayati hayati mencoba membuat abon duri ikan Bandeng. Ternyata abon duri ini banyak yang menyukai. “Awalnya saya mendapat ispirasi dari dokter kenalan saya tentang kandungan kalsium dalam duri ikan Bandeng”, ujarnya.

Untuk setiap bungkus abon dengan ukuran 100 gram dijual dengan harga 9 ribu rupiah. Harga yang sangat terjangkau dan bisa di bilang sangat murah di banding manfaatnya dalam mencegah osteoporosis. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. (86)

0 comments:

Post a Comment