BOOMERANG, SENJATA ASLI SUKU ABORIGIN BUATAN WARGA SEMARANG



Di sebuah sudut kampung di Kelurahan Sampangan Kota Semarang, Haryo Pangarso pengrajin Boomerang menggeluti usaha kerajinannya. Dengan berbekal sebuah Laptop untuk mengakses internet, Haryo berhasil mempelajari seluk-beluk Boomerang, senjata asli suku Aborigin Australia. Dari internet ia mempelajari aneka macam bentuk Boomerang yang ternyata memiliki beragam bentuk dan ukuran, juga ornamen dan warna-warna yang menghiasinya. Dari gambar di internet tersebut, Haryo kemudian mendesain rancangan sendiri Boomerangnya.

Senjata Boomerang akan bergerak berputar mirip baling-baling Helikopter. Saat musuh mengira serangan tersebut meleset ternyata salah, karena ternyata bumerang tersebut kembali menyerangnya. Jika salah memainkan Boomerang, kemungkinan besar akan menyerang balik anda dan lebih kejam lagi membuat anda terbunuh.

Alat yang ia pakai untuk membuat Boomoerang cukup sederhana saja. Sebuah plastik untuk membuat gambar, spidol dan gunting. Hasil bentuk rancangan kemudian dialihkan ke sebuah bahan triplek. Dengan alat pemotong, bentuk mentah Boomerang berbahan triplek ini sudah jadi.

Kelihatananya mudah. Namun jangan salah, butuh naluri, bakat dan penghitungan yang tepat bagi seorang perajin agar Boomerang bisa diterbangkan. Dengan bakat dan naluri inilah menjadikan seorang Haryo Pangarso tampak berbeda dengan pengrajin Boomerang lainnya.

Keseimbangan Boomerang terutama pada sisi sayapnya, harus dihitung dengan cermat. Setelah semua proses pembuatan, dan mengukur keseimbangan, barulah, boomerang ini dihaluskan, dan diberi ornamen serta warna cat yang menarik.

Dalam sehari, Haryo mampu memproduksi 10 buah Boomerang. Seluruh hasil karyanya harus diujicoba dulu untuk memastikan layak terbang. Boomerang yang baik menurut Haryo adalah Boomerang yang ketika dilempar ke udara, mampu kembali lagi ke posisi semula. Dengan demikian, Boomerang sering di jadikan sebagai kata yang menggambarkan senjata makan tuan, jika keputusan yang salah dari seseorang bisa menjadi senjata yang membunuhnya. Ingat filososi Bumerang ini, ‘Hati-hati melangkah, karena setiap langkah anda, maju atau mundur merupakan pilihan hidup atau mati anda’

Haryo menjual Boomerang karyanya secara online dengan membuat 2 buah blog beralamat di: http://boomerangsemarang.blogspot.com/ dan http://jualboomerang.blogspot.com/.

Di awal usahanya, Haryo sempat kesulitan mendapat konsumen. Tanpa putus asa, Haryo terus mempromosikan Boomerang lewat internet. Dan setengah tahun terakhir ini, karya haryo sudah mulai banyak dipesan. Awalnya, pesanan mengalir dari kota-kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Denpasar. Lambat laun, Boomerang karyanya mulai dipesan dari beberapa negara seperti dari Benua Australia dan Eropa.

Harga Boomerang ala Haryo ini berkisar antara 40 hingga 50 Ribu Rupiah. Padahal, Boomerang serupa di luar negeri, harganya mencapai puluhan dollar alias ratusan ribu Rupiah.

Banting tulang dan peras keringat dari seorang Haryo, kini mulai berbuah manis. Dengan berfikir kreatif, kegagalan di awal, bisa menjadi kesuksesan di masa kini dan masa depan.

0 comments:

Post a Comment