BENANG SUTERA ALAM GARUT, POTENSI AGROBISNIS KUALITAS UNGGUL



Kabupaten Garut tidak hanya dikenal dengan produk dodolnya saja. Di Kabupaten ini masih tersimpan banyak sekali produk-produk yang sudah puluhan tahun diproduksi, salah satunya adalah kain sutra alam. Potensi di sektor ini cukup menjanjikan, mengingat, Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah dengan potensi agrobisnis terbesar di Jawa Barat. Potensi bisnis inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Asep hermawan, pemilik Viera Sutera Alam, di Jalan Otista, Garut, Jawa Barat.

Asep Hermawan dan istrinya Wiwin Lidaeni adalah penerus dari pelopor kain sutera alam di Garut. Kakeknya, Haji Aman Sahuri merupakan pengembang sutra alam pertama di Garut. Haji Aman Sahuri, sejak tahun 1961 sukses membudidayakan ulat sutera sebagai bahan kain sutera. Bayongbong dan Cikajang, dipilihnya sebagai daerah untuk memelihara ulat sutera. Pasalnya ulat sutera perlu daun murbey (bebesaran) untuk makanan utamanya dan kedua daerah itu sangat cocok ditanami murbey karena berhawa dingin.

Bahkan, karena jasa-jasanya dalam mengembangkan usaha sutera alam, pada tahun 1990, Haji Aman Sahuri memperoleh penghargaan Upakarti dari Pemerintah.

Sejak tahun 1984 sampai sekarang, bersama saudara-saudaranya yang lain, Asep Hermawan menjadi penerus usaha yang telah sejak jaman belanda dirintis oleh kakeknya, Haji Aman Sahuri.

Di tempat usahanya yang diberi nama Viera Sutera Alam, setiap harinya Asep dan istrinya mengelola produksi kain berbahan dasar benang ulat sutera. Dengan jumlah karyawan 40 orang. Di tempat ini pula, Asep bisa memproduksi kurang lebih 160 meter kain sutera alam setiap harinya.

Menurut Asep, permintaan kain sutera alam Garut sampai saat ini masih cukup tinggi. Dengan omzet sekitar 200 Juta Rupiah per bulan. Dalam sebulan Asep bisa menjual tak kurang dari 100 potong kain, 900 meter.

Harga kain sutera produksinya bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dalam proses pengerjaannya yakni dengan kisaran harga 100 Ribu Rupiah per meter. Sementara, untuk per potong kain, 2,5 meter, Asep menjual dengan harga 350 sampai 750 ribu rupiah.

Dari segi kualitas, sutera alam Garut tak kalah dengan kain sutera alam buatan daerah lainnya. Bahkan lebih unggul dari segi motif yang khas Garutan dan ketebalan kain.

Tak hanya pasar lokal seperti Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta Dan Solo, akan tetapi permintaan pasar global pun cukup tinggi. Bahkan, kain sutera alam produksi Asep telah memasuki pasar Jepang, Kanada dan Amerika.

Meski permintaan masih tinggi, namun, Asep mengaku kesulitan memenuhi permintaan tersebut. Kendalanya ada pada bahan baku yang langka dan sangat mahal. Akibatnya, Asep hanya bisa memenuhi sekitar 50% dari permintaan yang datang.

Asep, seperti juga pengrajin sutera lainnya berharap pemerintah lebih memperhatikan keberlangsungan usahanya. Terutama dalam hal kesulitan dan mahalnya bahan baku. Padahal, industri persutraan merupakan salah satu sub sektor agroindustri yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena memiliki berbagai keunggulan. Yakni bahan baku seluruhnya tersedia dan berasal dari sumber daya alam lokal.

1 comment:

  1. ada nomor telepon yg bisa dihubungi?

    ReplyDelete