HEMAT ENERGI BELUM JADI BUDAYA



Sosialisasi hemat energi yang selama ini dijalankan pemerintah nampaknya belum menggunakan meode yang benar sehingga gagal menyadarkan masyarakat untuk akan pentingnya hemat energi. Hal itu diungkapkan Syarifuddin Mahmudsyah, Kepala Seksi Pembangkitan dan Manajeen Energi Listrik Teknik Elektro Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) saat Sosialisasi Pembentukan Gugus Tugas Penghematan Energi dan Air di Ruang Sabha Dyaksa Pemkab Lamongan, Rabu (30/6).

Menurut Syarifuddin, secara global, penghematan energi telah dilakukan hamper semua negara di dunia. Termasuk Indonesia yang menyikapi kenaikan harga BBM dengan berbagai reaksi yang menimbulkan ide-ide kreatif. Namun lanjut Syarifuddin, sebagain besar masyarakat dan dunia industri menyikapinya dengan tanpa mengubah pola dan kebiasaan sebelumnya sehingga dikhawatirkan malah akan menimbulkan krisis.

“Hemat energi seharusnya dijadikan sebagai budaya, bukan sekedar kebiasaan seperti yang telah dilakukan sejumlah negara maju seperti Jepang negara-negra Eropa maupun Amerika Serikat. Belum membudayanya hemat energi di Indonesia salah satunya adalah belum dilakukannya sosialisasi secara benar. Karena itulah, meski berbagai sosialisasi sudah dilakukan pemerintah maupun lembaga masyarakat sejak bertahun-tahun lalu, budaya hemat energi belum menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Bahkan pemahaman hemat energi yang benar masih sangat sedikit yang mengetahuinya, “ ungkap Syarifuddin yang juga Dewan Pakar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Wilayah Jawa Timur tersebut.

Masalahnya, lanjut dia, sosialisasi yang selama ini dilakukan bukan ditujukan untuk membentuk budaya. Melainkan hanya dilakukan secara sporadis untuk mendukung program masing-masing instansi. “Untuk mewujudkan budaya hemat energi, dibutuhkan sosialisasi yang berkesinambungan. Sosialisasi juga harus segera dilakukan dengan metode penyampaian yang benar. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan konsolidasi dari semua kegiatan sosialisasi di bidang energi yang selama ini dilakukan secara parsial menjadi satu gerakan nasional, “ tandasnya.

Dia kemudian membagi sejumlah tips sederhana hemat energi. Seperti penggunaan teknologi baru semacam lampu dari materi light emitting diode (LED) yang minim konsumsi energi namun dengan tingkat ketajaman yang sama untuk lampu penerangan. Pemilihan alat rumah tangga yang tepat dan disesuaikan dengan kebutuhan juga bisa sebagai langkah awal pembentukan budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait program hemat energi, Pemkab Lamongan telah membentuk gugus tugas penghematan energi dan air di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah atau SKPD. Meski seperti diakui Asisten Administrasi Nurroso, selama ini laporan dari masing-masing gugus tugas belum dilakukan secara kontinyu. Padahal gugus tugas tersebut seperti disampaikan Nurroso penting peranannya untuk menjadikan SKPD sebagai pelopor penghematan energi dan air.

Disambung Pj Kabag Perekonomian Mochammad Faiz Junaidi, untuk meningkatkan peran gugus tugas di masing-masing SKPD, kedepan akan diupayakan reward bagi SKPD yang bisa melakukan penghematan energi dan air secara efektif. “Diharapakan setelah sosialisasi ini, masing-masing gugus tugas akan memberikan laopran secara rutin sehingga bisa dilakukan evaluasi keefektifan programnya, “ terang Faiz di kegiatan yang diikuti 70 SKPD dan BUMD di Lamongan itu. Sosialisasi itu juga menghadirkan Effendi As’arianto, Kabid Energi Ketenagalistrikan Dinas Energi dan Suberdaya Mineral Pemprov Jatim sebagai salah satu nara sumber.

1 comment:

  1. Cuma memberikan info bahwa kita bisa mengecek apakah kita hemat energi atau tidak. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete