KAMPUNG PANCASILA, MASJID BERDIRI DI SAMPING GEREJA DAN PURA



Sebuah Masjid di Lamongan Jawa Timur, memiliki keistimewaan dibanding Masjid-Masjid di daerah lain. Masjid berasitektur Timur Tengah tersebut justru berdiri kokoh berdampingan dengan tempat ibadah Pura dan Gereja. Tak khayal daerah ini disebut sebagai Kampung Pancasila.

Masjid Miftahul Huda di Desa Balun, Kecamatan Turi Lamongan, memiliki keistimewaan sendiri di banding Masjid di daerah lain. Masjid berarsitektur kental timur tengah ini memiliki kubah besar ditengah, dengan dikelilingi lima kubah kecil sebagi simbol penanda sholat lima waktu.

Masjid ini dibangun oleh seorang penyebar agama Islam di desa Balun, pada tahun 1960-an. Tak hanya Masjid, peninggalan berupa mimbar khutbah dari kayu jati dan sebuah bedug masih dapat di gunakan.

Tak banyak yang tau mengenai sejarah berdirinya Masjid ini. Namun, keistimewaannya adalah Masjid ini berdiri kokoh berdampingan dengan tempat ibadah agama umat Hindu dan umat Kristen.

Persis di sebelah selatan Masjid, berdiri bangunan Pura, tempat ibadah ummat Hindu. Bangunan Masjid dan Pura tersebut hanya dipisahkan jalan kampung selebar empat meter. Bahkan, jika dilihat dari lokasi Pura Sweta Maha Suci ini, bangunan Masjid seolah menyatu dengan bangunan Pura.

Tak hanya itu, tepat di depan Masjid berjarak kurang lebih 50 meter, berdiri sebuah Gereja Kristen Jawi Wetan tempat ibadah umat Kristiani.

Menurut pengurus ta'mir Masjid, berdirinya tiga tempat ibadah berdampingan ini menjadi contoh tauladan bagi kerukunan umat beragama di indonesia. Tak heran, desa Balun terkenal dengan sebutan kampung pancasila atau desa tri kerukunan. “Kami salig menghormati dengan menjaga perasaan beragama masing-masing orang”, ujar Titis Suparno, pengurus Ta’mir Masjid.

Rasa saling menghormati juga diwujudkan selama bulan suci ramadhan oleh penganut agama yang lain. Ummat Hindu yang bisa beribadah pada pukul tujuh malam misalnya, terpaksa merubah jadwalnya ke sebelum maghrib. Karena pada jam tujuh malam ummat Islam sedang menjalankan sholat terawih.

Keragaman keyakinan warga desa Balun sudah terjalin sejak lama, saat masing-masing tokoh agama menyebarkan agama di desa ini.

Dari sedikitnya 1500 kepala keluarga, 75 persen warga desa Balun beragama Islam, 15 persen beragama Kristen dan sepuluh persen sisanya beragama Hindu.(86)

3 comments:

  1. Yang seperti ini harus di tiru di daerah lain... Kita hidup di Indonesia, masa mau buat tempat ibadah aja susah banget...

    ReplyDelete
  2. terimakasih liputannya kak,
    kapan-kapan boleh kok mampir kesini

    ReplyDelete