BUDIDAYA BUNGA KRISAN, LARIS SEBELUM PANEN



Tinggal di wilayah perbukitan dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, ternyata membawa berkah tersendiri. Seperti yang di alami kelompok tani warga Dusun Nglambur, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Jogjakarta, selain cocok untuk bercocok tanam kopi, teh dan rempah-rempah, sejuknya suhu udara di dusun Nglambur juga dimanfaatkan warga untuk membudidayakan bunga krisan (chrysanthemum ).

Budidaya bunga hias yang berasal dari daratan China tersebut, ibarat menabur benih berlian. Betapa tidak, mseki belum panen, order terus berdatangan. Ini yang kini dialami kelompok tani pembudidaya bunga krisan. Kelompok tani yang mayoritas anggotanya adalah kaum ibu, sebenarnya baru mulai budidaya bunga krisan sekitar awal bulan Juni tahun 2010 ini dan baru akan panen bulan depan. Tetapi order bunga krisan, terus mengalir.

Meski baru tahap uji coba, mereka sudah mampu mengembangkan berbagai macam varietas dan berbagai warna bunga krisan, seperti bunga krisan jenis fiji kuning, padma buana, zimba putih dan puma. Bahkan saat ini sudah 26 jenis bunga krisan yang di budidayakan.

Mulyanto, ketua kelompok tani mengatakan memperoleh ilmu budidaya bunga krisan ini dari study banding perkebunan di Malang, Jawa Timur.

Karena masih uji coba, untuk pengebangan di Kulon Progo, masih ada kendala sedikit yakni tanaman terserang hama jenis karat daun, namun bisa diatasi, sedang pemasaran belum panen saja sudah ada yang pesan.

Selain menjanjikan, harga bunga krisan pun relatif menarik, karena pada masa tertentu terutama bulan Nopember, harga bunga krisan bisa mencapai Rp 1500 hingga Rp 2500 pertangkainya.

Bunga krisan biasanya di manfaatkan masyarakat dalam berbagai upacara pernikahan, termasuk hiasan ruangan rumah sekalipun. Sebab, sebagai bunga potong, krisan bisa bertahan lebih dari 2 minggu di vas.(86)

0 comments:

Post a Comment