MENGENANG TRADISI PESTA KETUPAT WARISAN SUNAN DRAJAT



Ratusan warga di pesisir pantai utara Lamongan Jawa Timur, merayakan hari raya ketupat dengan menggelar napak tilas pesta makan ketupat oleh Sunan Drajat saat menyambut tamu (15/09.) Agar suasana semakin meriah, warga mengenakan pakaian adat jawa tradisional.

Arak-arakan tersebut di ikuti ratusan warga yang ada di sekitar kawasan wisata Tanjung Kodok Kecamatan Paciran Lamongan, yang terdiri dari ibu dan bapak-bapak. Dengan menggunakan pakaian adat, warga kemudian berjalan sambil membawa ketupat menuju kawasan wisata Tanjung Kodok, tempat Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur menyambut tamu utusan janda Mantingan (Nyai Kalinyamat), asal Rembang Jawa Tengah yang akan menyumbang kayu untuk pembangunan masjid agung milik Sunan Sendang Duwur.

Arak-arakan juga di lengkapi dengan iringan musik jedor, rebana serta jaran jenggo yang di mainkan oleh kaum lelaki sambil melantunkan shalawat nabi.

Saat arak-arakan tiba tajung kodok, secara bersamaan, rombongan dari rembang juga tiba dengan mengendarai perahu, sambil membawa 99 kayu untuk di sumbangkan ke pembangunan masjid agung Sunan Sendang Duwur. Para tamu juga membawa serta sekelompok perompak yang akhirnya masuk islam dan menjadi santri Sunan Drajat.

Selanjutnya Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur menyambut tamunya dengan hidangan ketupat dan lepet. 2 jenis makanan yang di lilit daun kelapa ini melambangkan larangan terhadap sejumlah perbuatan dosa yang di larang agama, serta anjuran mempererat persaudaraan antar umat islam.

Menurut warga, tradisi arak-arakan ketupat ini, sudah berlangsung ratusan tahun, sejak masuknya islam ke wilayah Lamongan sekitar abad ke 15 yang di bawa Sunan Drajat. Sebelumnya, warga berziarah ke makam Sunan darajat dan Sunan Sendang Duwur sebelum melakukan napak tilas ini. “Setelah semua tempat bersejarah di kunjungi, kami lalu pesta ketupat di tanjung kodok ini”, ujar Iksan Hidayat, tokoh masyarakat setempat.

Warga setempat, meng-istilahkan lebaran ketupat ini dengan kupatan yang berarti mengaku lepat, atau mengakui kesalahan. Di harapkan, dengan tradisi ini, warga bisa menghayati makna kebersamaan yang tercermin dalam kekompakan selama meng-arak ketupat.

Seperti kaum mislimin lainnya, masyarakat muslim di Lamongan, merayakan lebaran ketupat, setelah melaksanakan puasa sunnah 6 hari lamanya pasca Idul Fitri. Meski hanya merupakan tradisi lokal, namun warga mengikuti prosesi arak-arakan ini dengan penuh khidmat.(86)

0 comments:

Post a Comment