WISATA AGROBISNIS KE DESA SENTRA JAMBU BIJI MERAH



Anda tentu mengenal jambu biji merah. Ya jambu yang dulu jarang dilirik, kini banyak dicari untuk bahan utama juss maupun untuk obat demam berdarah. Nah, di Desa Kalipakis Kecamatan Sukorejo, Kendal Jawa Tengah, kini menjadi sentra budidaya jambu biji merah. Hasil produksi petani banyak dipesan hingga ke berbagai kota di Indonesia.

Jambu biji merah yang ranum, wangi dan manis, bagi warga Desa Kalipakis, telah mampu merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Sejak lima tahun yang lalu, mereka banting stir dari menanam padi dan palawija, menjadi petani jambu, seiring mulai trendnya jambu biji untuk dibuat jus jambu sebagai obat demam berdarah.

Selain untuk budidaya, lahan pertanian jambu biji merah juga sering dikunjungi wisatawan yang mampir di desa yang berada di lereng Gunung Perahu tersebut.

Adalah Bapak Syahrir, salah satu petani yang menjadi pionir budidaya jambu di desa Kali Pakis. Awalnya ia hanya menanam seratus bibit pohon jambu di lahan seluas Empat Ribu Meter Persegi. Seiring perjalanan waktu, produksi jambu bakan tak mampu memenuhi permintaan, sehingga ia pun memperluas lahan jambunya. Untuk memperbanyak bibit, Pak Syahrir mencangkok cabang menjadi pohon baru.

Sebenarnya tidaklah sulit membudidayakan jambu biji merah ini. Asalkan tahu bagaimana memperlakukan tanaman, bunga, buah, hingga bagaimana cara membasmi hama. Sejak bunga menjadi bakal buah, harus ditutup dengan plastik. Hal ini untuk menghindari telur lalat yang bisa menjadi ulat dan menggerogoti daging buah jambu. Untuk ulat maupun kutu daun tinggal dibasmi dengan obat semprot yang bisa dibeli di toko pertanian. “Modalnya hanyalah ketekunan dan keuletan dalam merawat”, ujar Pak Syahrir.

Buah yang siap panen akan berwarna hijau agak kekuningan hingga buah berwarna kuning semburat merah. Memanen buah juga harus hati-hati agar buahnya tidak tergores yang bisa merusak penampilan buah. Wisatawan bisa memetik sendiri buah jambu dan langsung memakannya. Atau ikut panen dan mengumpulkannya ke pengepul yang siap menanti di tepi kebun.

Jambu hasil panen akan dibawa ke tempat penyortiran. Di sini buah diseleksi antara buah yang kecil dan besar, sesuai dengan kelasnya.

Banyak atau sedikitnya hasil panen bergantung pada pemeliharaan dan masa musim panen. Saat puncak musim panen, petani bisa memanen hingga satu ton lebih per hari. Sedang pada saat di luar musim, hasil panen hanya berkisar satu kwintal saja. Jambu yang telah disortir lalu dikumpulkan dan dikemas dalam keranjang besar, untuk dikirim ke pemesan.

Jambu biji merah Kalipakis, sudah dikenal di berbagai kota di Indonesia. Jambu dikirim antara lain ke kota Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, hingga ke Bandung Dan Jakarta. Menarik kan?.(86)

0 comments:

Post a Comment