GAMELAN MINI, BACK SOUND TRADISIONAL YANG MASIH BERTAHAN



Zaman kian modern, mainan pun banyak pilihan dan inovasi. Sementara mainan tradisional mulai terlupakan. Mungkin permainan kelereng, patil lele ataupun congklak, suatu saat juga akan menjadi kenangan.

Namun, mainan tradisional gamelan mini ternyata jauh lebih beruntung dibanding mainan tradisional lainnya. Adalah Panut warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Loceret Nganjuk Jawa Timur, misalnya masih ada warga yang setia membuat kerajinan saron mini.

Sejak 25 tahun lalu, Panut mulai membuat miniatur salah satu perangkat gamelan dan hingga kini, permintaan gamelan mini buatan Panut masih tetap membanjir.

Miniatur yang dibuat Panut, bukan sekedar untuk pajangan. Saron mini ini juga bisa dimainkan. Membuatnya juga tidak sembarangan. Panut, memanfaatkan kayu, serta potongan besi-besi bekas.

Di halaman rumahnya yang sederhana, Panut bersama tujuh karyawannya yang mayoritas putus sekolah, mengerjakan saron-saron mini pesanan pelanggannya, mulai memotong, mengasah hingga merakitnya.

Tapi bagian yang paling sulit dalam proses pembuatan adalah saat pelarasan atau menyesuaikan nada-nada saron mini dengan nada saron ukuran asli. Bunyi harus sama persis.

Inilah yang menjadi daya tarik saron mini. Saron mini benar-benar bisa dimainkan layaknya gamelan asli, seperti menyanyikan setiap gending-gending Jawa. “Gak kalah mas dengan yang besar, mungkin karena unik saja”, ujar Panut.

Ya, setiap harinya, Panut bisa menghasilkan sedikitnya 150 buah saron mini. Selain di nganjuk, mainan ini juga dipasarkan hingga ke luar daerah. Setiap buah hanya dijual 3000 hingga 10 Ribu Rupiah, tergantung ukuran. Meskipun dijual murah, namun Panut masih bisa mengantongi laba bersih hingga Empat Juta rupiah, setiap bulannya.

0 comments:

Post a Comment