BURUH MIGRAN RENTAN HIV/AIDS



Buruh migran menjadi profesi yang rentan terjangkiti HIV/AIDS. Terkait fenomena itu, Yayasan Kembang, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpusat di Jogjakarta akan mengadakan survey di dua kabupaten di Jatim, yakni Lamongan dan Pamekasan. Survei tersebut dimulai dengan kegiatan focus group discussion (FGD) bersama sejumlah ormas dan LSM Lamongan di Ruang Sasana Nayaka kemarin.

Ika, Ketua Yayasan Kembang mengungkapkan alasannya memilih Lamongan dan Pamekasan sebagai lokasi survey. Dikatakan olehnya, selama ini Lamongan dan Pamekasan dikenal sebagai daerah yang penduduknya banyak bekerja sebagai buruh migran (TKI) di luar negeri. “Hasil survey ini bisa dijadikan acuan dalam pembuatan regulasi dan kebijakan terkait penanganan AIDS yang dialami buruh migran, “ kata Ika.

Kegiatan FGD itu sendiri dibuka Wakil Bupati Lamongan Amar Saifudin. “Saya menyambut baik atas diselenggarakannya kegiatan ini. Dengan harapan dapat menggambarkan karakteristik demografi yang ada serta mengidentifikasi berbagai kebijakan yang ditujukan untuk perlindungan hak-hak buruh migran. Termasuk didalamnya terkait pencegahan HIV/AIDS di kalangan buruh migran, “ papar dia.

Disampaikan Amar, peyakit HIV/AIDS ditemukan di Lamongan sejak tahun 2002 silam. Sampai dengan tahun 2010 secara kumulatif telah ditemukan sebanyak 190 kasus. Dari jumlah tersebut, 79 orang diantaranya telah meninggal dunia. Sementara di tahun 2010 saja, ditemukan 51 kasus baru warga Lamongan yang terinfeksi HIV/AIDS.

Data Dinkes Lamongan menyebutkan, dari 27 kecamatan di Lamongan, 26 diantaranya sudah terpapar HIV/AIDS. Hanya Kecamatan Sukorame yang belum ditemukan penderita diantara warganya. Warga Lamongan yang pertamakali terdeteksi terkena HIV/AIDS adalah seorang pekerja seks yang sebelumnya bekerja di Sampit, Kalimantan Tengah, kemudian pulang ke Lamongan dalam kondisi sudah parah.

0 comments:

Post a Comment