PT POLOWIJO GOSARI PRODUSEN DOLOMIT TERBESAR DI INDONESIA



Bupati Gresik, Dr. Sambari Halim Radianto menyebutkan ada 19 wilayah holtikultura di Gresik diantara 76 yang ada di Jawa Timur. Untuk itu Bupati menyambut baik rencana pengembangan Holtikultura PT Polowijo Gosari seluas 2000 ha. Bupati berharap agar PT Polowijo Gosari semakin memberikan kesejahteraan pada masyarakat sekitar. Harapan ini disampaikan oleh Bupati saat berpidato pada resepsi HUT PT Polowijo Gosari ke 33 yang dipusatkan dilingkungan pabrik di Ujungpangkah Gresik, Rabu (11/5).

Kemajuan PT Polowojo yang sudah 33 tahun ini menunjukkan grafik yang naik. Naik dari sisi produksi, naik dari sisi pengembangan dan naik dari sisi keuntungan. “bagi kami yang penting bisa mensejahterakan masyarakat sekitar. Percuma saja meski sudah berskala Nasional maupun international bila masyarakat sekitarnya tidak sejahtera” himbau Sambari berulang-ulang.

PT Polowijo Gosari yang berpusat di Jalan Raya Ujungpangkah ini berdiri sejak 11 Mei 1978. Sebagai Perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha perusahaan ini punya prospek besar. Berbagai bidang usaha digeluti mulai dari pertambangan kapur, pembuatan pupuk dolomit serta sebagai perusahaan agrobis yang mengembangkan produk buah-buahan dan holtikultura.

Bahkan PT Polowijo Gosari mengklai sebagai pusat dan produsen Dolomit terbesar di Indonesia dan berskala International. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Perusahaan M. Achmad Jauhar Arifin. Dalam kesempatan itu Arifin menyampaikan beberapa kegiatan sosial yang dilakukan yaitu, khitanan massal serta pembagian sembako untuk masyarakat disekitar pabrik.

Arifin juga berjanji bahwa pihaknya akan siap berada dibelakang Bupati dalam membangun perekonomian Gresik. Seperti yang disampaikan Bupati tentang pengembangan kebun inti holtikultura yang meliputi wilayah Panceng, Ujungpangkah dan Dukun. “Kebun inti ini nantinya di tengah-tengahnya akan dibangun sekolah yang meneliti tentang holtikultura. Harapan saya Kebun inti ini akan menjadi pusat Holtikultura di Indonesia”. Ujar Arifin. (sdm)

0 comments:

Post a Comment