MAINAN TRADIONAL KITIRAN YANG TERUS EKSIS



Ditengah maraknya mainan modern yang berkembang dipasaran, tak membuat semua pengrajin mainan tradisional surut berkarya. Seperti kitiran, salah satu mainan tradisional bikinan pengrajin warga desa Karanganyar, Welahan, Jepara, Jawa Tengah yang menjadi sentra pengrajin kitiran.

Kitiran merupakan mainan tradional yang hingga kini masih banyak diminati anak-anak. Mainan ini banyak dijumpai dipasar tradisional maupun di jalanan tempat pedagang keliling berjualan.

Keberadaan kitiran telah ada sejak tahun 70-an. Salah satu pengrajin kitiran yang hingga kini masih eksis adalah Sumarno. Pria berusia 45 tahun ini menekuni kerajinan kitiran sejak tahun 1982. Saat itu, Sumarno masih duduk di bangku smp.

Berawal dari sekedar niat membantu mengurangi beban biaya sekolah, usahanya kini justru bisa menjadi mata pencaharian keluarganya.

Tak sulit untuk mencari bahan baku kitiran. Karena sebagian besar bahan bakunya terbuat dari bambu. Dalam pengerjaannya, Sumarno selalu dibantu muslihah, sang istri.

Meski terbilang sederhana, kitiran dibuat melalui beberapa proses. Dari pembuatan tangkai dan pewarnaannya, pembuatan baling-baling hingga merangkainya.

Selama ini, Sumarno mengaku tak ada kendala dalam hal pemasaran. Dengan melibatkan warga sekitar dalam memasarkan mainan hasil karyannya, justru Sumarno sering kewalahan, karena kehabisan stok.

Selain dipasarkan di wilayah Indonesia, kitiran buatan Sumarno kini telah merambah pasar asia tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura serta Brunei Darusalam.

Dengan terus meningkatnya daya minat anak-anak untuk memilih kitiran sebagai mainan, Sumarno memperdayakan tetangga terutama ibu-ibu untuk proses pembuatannya. Selain mengurangi angka pengangguran, kegiatan ini bisa menambah pendapatan warga.

0 comments:

Post a Comment