PARADIGMA PENDIDIKAN KIAN MATERIALISTIK



Neno Warisman, artis yang kini juga menjadi praktisi home schooling dan pendidikan alternatif mengkritisi paradigma orang tua kini dalam mendidik anaknya yang cenderung materialistik, hanya untuk materi. Dia menyebut dunia pendidikan Indonesia dan orang tua kini hanya percaya dengan angka untuk mengukur kecerdasan anak.

Orang tua cenderung berfikir bagaimana pendidikan ankanya setelah SD kemudian SMP, SMA hingga mencari kerja untuk menumpuk materi. “Kita orang tua menyerahkan pendidikan anak kita di sekolah. Sementara di sekolah, kecerdasan anak-anak kita hanya diukur dari angka-angka ujian. Ini adalah kesalahan besar yang sudah berlangsung sejak tahun 1905 ketika diciptakan konsep bahwa kecerdasan bisa diukur secara obyektif melalui angka IQ, intelegence qoutient, “ tegasnya saat menjadi pembicara seminar kecerdasan anak di Auditorium Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, Rabu (13/7).

“Tidak adil dan tidak islami jika anak dilihat kelemahannya dulu baru kemudian diakui kecerdasannya, “ imbuh dia. Dia menyebut paradigma materialistiklah yang melahirkan generasi Indonesia yang sekarang. Generasi sama yang saat ini duduk di gedung dewan dan melakukan korupsi, bahkan oleh mereka yang berasal dari partai berlabel Islam sekalipun.

Dia kemudian mencontohkan seorang siswa yang tidak dinaikkan kelas karena nilai matematikanya jelek. Padahal dia siswa itu memiliki kecerdsan visual sehingga bis amnghasilkan karya visual yang sangat berkualitas. Hal itu disampaikannya agar ibu tidak serta merta menilai anak hanya dari kecerdasan logika saja.

Disebutkannya, selain kecerdasan logika, ada tujuh kecerdasan lain. “Tugas orang tua untuk mengawal anak agar tumbuh berkembang sesuai potensi kecerdasan yang dimiliki. Bukan atas penilaian angka semata, “ ucap dia dalam seminar yang dibuka Ketua Tim Penggerak PKK Lamongan Mahdumah Fadeli tersebut.

Itu disampaikannya berdasar teori kecerdasan majemuk atau multiple intellligence yang dikemukakan Howard Gardner. Delapan kecerdasan itu diantaranya adalah kecerdasan verbal/bahasa, logika/matematika, spasial/visual, tubuh/kinestetik, musical/ritmik dan kecerdasan spiritual. Sementara sejak awal 2010 mulai dikenalkan lagi teori kecedasan berdasar ajaran Rasulullah.

Neno Warisman yang juga salah satu deklarator dan pendiri Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia itu berharap mulai sekarang, dimulai dari ibu, untuk merubah paradigma tersebut. “Ibu bertanggung jawab menghadirkan ke dunia putra putri akherat. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita mau kembali pada metode Rasul mendidik generasi di masanya dulu, “ ujarnya.

Ditegaskan olehnya, dalam mendidik anak harus selalui diingat empat pilar karakteristik manusia utama. Yakni Shiddiq (tidak berdusta), Amanah (dapat dipercaya), Fathonah (tajam akal) dan Tabligh (memulai dari sendiri dan memberi keteladanan). “Anak sejak dini harus diajarkan tentang kejujuran. Karena kejujuran inilah yang akan melandasi semuanya, “ kata dia.

Terkait tumbuh kembang anak, Mahdumah Fadeli menyebutkan saat ini PKK sedang gencar mengambangkan posyandu plus. Yakni posyandu yang dipadukan dengan kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD). Bahkan kini jumlah PAUD di Lamongan berkembang hingga mencapai 1.016 lembaga. (arf, Humas Pemda Lamongan)

0 comments:

Post a Comment