SISWA SD CIPTAKAN ALAT DETEKSI GEMPA DARI LIMBAH KALENG



Minimnya alat pendeteksi gempa bumi yang menyebabkan kepanikan warga di Sumatera dan Pandeglang Banten Jawa Barat, meng-inspirasi siswa sekolah dasar di Gresik Jawa Timur, menciptakan alat pendeteksi gempa (15/04/2012.) Uniknya, alat pendeteksi gempa bumi tersebut, terbuat dari limbah kaleng.

Ide kreatif kali ini, muncul dari klub IPA siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) Kecamatan Kebomas, yang berhasil menciptakan alat pendeteksi gempa. Uniknya, alat ini hanya terbuat dari kaleng bekas yang di rangkai dengan magnet dan mampu menimbulkan bunyi alarm, tanda adanya gempa bumi.

Bunyi alarm tersebu muncul, saat magnet yang di gantung dalam kaleng, menyentuh serta menempel pada sisi kaleng. Pertemuan antara sisi kaleng dan magnet yang telah terhubung dengan kabel ini, akan membuka aliran daya listrik yang kemudian di salurkan ke sirine melalui kabel, hingga menimbulkan bunyi alarm.

Untuk melengkapi desain peralatan, di butuhkan tambahan bahan berupa gantungan besi, kayu dan paku hingga membentuk sebuah alat unik dan sederhana seperti ini. Namun, jangan salah, meski alat ini terlihat sederhana, namun, mampu menyampaikan pesan terjadinya gempa bumi.

Alat ini, selanjutnya di letakkan di dalam ruangan yang bebas dari angin, maupun getaran lainnya, agar bunyi yang di timbulkan benar-benar di akibatkan goncangan gempa bumi, sehingga warga pun segera menyelamatkan diri ddengan berlindung ke tempat yang aman.

Menurut para siswa, ide awal membuat alat pendeteksi gempa bumi ini muncul saat menyaksikan kepanikan warga korban gempa bumi di sumatera pekan lalu di layer kaca. Saat itu, sebagian siswa melihat lampu gantung yang bergoyang. Saat itu, muncullah ide membuat alat pendeteksi gempa bumi ini.

Pihak sekolah sendiri berencana akan meng-ikut sertakan alat pendeteksi gempa bumi ini dalam festival sains antar pelajar serta akan mengembangkannya ke dalam bentuk yang lebih praktis serta bunyi yang variatif agar bisa di manfaatkan masyarakat. “Kedepan, kita akan membuat alat yang lebih praktis dengan bunyi yang lebih komunikatif”, ujar Ikhwan Arief, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah GKB.

Meski memiliki manfaat cukup besar, biaya pembuatan alat ini sangat murah, yakni hanya berkisar 50 ribu rupiah saja.

0 comments:

Post a Comment