PENGHOBI PANAHAN TRADISIONAL YANG HAMPIR PUNAH


Busur dan anak panah, merupakan salah satu senjata tradisional warisan leluhur bangsa kita. Namun para pecinta atau penghobi panah keberadaannya kini sangat jarang. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, komunitas pecinta keterampilan panahan tradisional masih eksis menjaga dan melestarikan budaya bangsa.

Mereka kerap menggelar latihan panahan tradisional besama sebagai ajang silaturahmi dan pelepas penat. Memang tidak seperti layaknya para pemanah profesional yang mengadu keterampilan dengan berdiri sigap serta tata tertib yang mengikat, para pemanah tradisional ini justru memanah dengan duduk santai di tanah beralaskan tikar, bahkan menggunakan payung sebagai pelindung kepala dari sengatan matahari.

Sasaran atau target bidikannya pun hanya satu buah, yakni sebuah bola karet berwarna putih, terdiri dari 3 buah ukuran berbeda yang dinamai grendel. Bola ini dibidik bersama oleh puluhan orang pemanah dengan jarak bidikan sekitar 50 meter.

Seorang pemanah membekali diri dengan 25 sampai 30 buah anak panah yang masing-masing pemanah memiliki warna anak panah yang berbeda. Sementara untuk memungut anak panah yang bertebaran di tanah, mereka mengupah anak-anak kecil untuk melakukannya.

Busur panah tradisional ini terbuat dari kayu, mereka biasa menamakannya sebagai gondewah, anak panahnya terbuat dari bambu dengan ujung panah terbuat dari logam besi berujung tajam. Untuk penyeimbang saat dilontarkan dan melesat diudara, bagian ujung belakang anak panah dipasangi 4 buah bulu ayam.

Komunitas pecinta panahan tradisional di Tasikmalaya sebeanrnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Meskipun pecintanya kian menyusut, namun mereka rutin mengadakan pertemuan dengan kegiatan memanah sebagai upaya untuk tetap melestarikan khasanah budaya bangsa.

0 comments:

Post a Comment