RAMADHAN, PENYADAP GULA AREN MENUAI BERKAH



Bulan puasa menjadi berkah tersendiri bagi penyadap aren di Sumedang, Jawa Barat. Banyaknya warga yang memasak kolak untuk tajil, membuat para penyadap aren harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhi pesanan. Dalam sehari, seorang penjual bisa menjual 20 bungkus gula aren.

Bagi warga desa Pasir Biru, Kecamatan Rancakalong Sumedang, bulan puasa merupakan penuh berkah untuk mengais rejeki. Pesanan gula aren akan meningkat hingga dua kali lipat selama bulan puasa karena banyak warga yang membuat kolak untuk buka puasa.

Berbekal bambu yang dilubangi, warga dengan sigap naik ke pohon aren yang tingginya bisa mencapai 25 meter. Dalam waktu 12 jam, kedua tabung bambu atau lodong pun sudah penuh terisi lima liter air nira.

dari satu lodong sepanjang satu setengah meter ini, bisa dihasilkan delapan bungkus gula aren yang dijual 4 ribu rupiah per bungkus.Para penyadap biasanya menjual nira yang sudah dicetak menjadi gula aren kepada pengepul. Dari mereka, gula bisa dijual dengan harga 3.500 hingga 4.500 Rupiah per bungkus.

Pembelinya pun tidak hanya berasal dari daerah sekitar. Keaslian gula aren rancakalong, membuat warga dari berbagai daerah membeli gula di daerah sini untuk oleh-oleh atau dipakai sendiri. Tak heran jika seorang pedagang gula aren di desa ini, bisa menjual 20 bungkus per hari.

Para penyadap aren di rancakalong umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka beralih menjadi penyadap aren karena banyaknya permintaan gula aren selama Ramadhan cukup lumayan penghasilanya.

0 comments:

Post a Comment