RITUAL MINTA HUJAN DENGAN SEDEKAH BUMI DAN BAKAR DUPA



Beragam cara di lakukan orang guna meminta hujan kepada sang maha kuasa saat musim kemarau seperti saat ini. Di gresik jawa timur, warga setempat meminta hujan dengan menggelar sedekah bumi sambil berdoa keliling kampung. Uniknya, doa di gelar dengan berbagai cara termasuk membakar dupa ala dukun (16/09/2012.)

Suasana kemeriahan tampak sejak memasuki Desa Sumari Kecamatan Duduksampeyan. Warga berduyun-duyun berkumpul di waduk desa setempat yang telah mengering, untuk menyaksikan ritual meminta hujan yang di kemas dalam bentuk sedekah bumi.

Kemeriahan tradisi tahunan yang di selenggarakan setiap musim kemarau ini, terpelihara dengan rapi. Bahkan, sejumlah peserta membawa berbagai alat pertanian dan hasil-hasil pertanian, sebagai simbol harapan warga untuk bisa hidup makmur.

Sejumlah tokoh adat setempat, berdoa dengan caranya masing-masing. Sebagian dengan menggunakan cara islam, yakni berdoa kepada sang maha kuasa, melalui zikir. Sementara sebagaian lainnya dengan cara membakar dupa. Dupa adalah simbol yang menandai semangat dari kesucian dan persembahan diri. Warga percaya, ritual ini di percaya warga bisa segera mendatangkan hujan.

Menurut warga, kekeringgan menyebabkan 500 hektar sawah dan tambak tadah hujan, di biarkan terlantar, hingga menambah beban ekonomi. “Kekeringan yang di alami warga tahun ini cukup parah, hingga kita kembali menggelar tradisi ini dengan harapan hujan segera turun, ujar Misbahul Munir, Kepala Desa Sumari.

Menurut misbahul munir, tradisi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak masa kolonial belanda. Namun, di hentikan karena menimbulkan kontroversi. Dengan kesadran baru masyarakat, sedekah bumi dan ritual ini kembali di gelar dalam 5 tahun terakhir.

Selanjutnya, warga meng-arak hasil bumi dan aneka makanan, keliling perkampungan sambil tak henti-hentinya berdoa, guna mengajak warga setempat untuk ikut berdoa meminta hujan segera diturunkan.

Sejak kemarau melanda, satu-satunya waduk yang menjadi tumpuan irigasi pertanian, mengering. Akibatnya, ratusan hektar lahan pertanian terlantar. Warga pun berharap hujan segera tiba, agar roda perekonomian kembali berputar.

Arak-arakan kemudian berakhir di balai desa setempat untuk selanjutnya, sebagian makanan dan buah-buahan di nikmati bersama, sebagai rasa sukur terhadap sang maha kuasa.

0 comments:

Post a Comment