MENENGOK KEHIDUPAN KELOMPOK PENCARI BELUT

Kehidupan para pencari belut di Gresik Jawa Timur, sering luput dari perhatian kebanyakan orang. Padahal, banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil dari kehidupan mereka yang unik. Di saat kebanyakan orang mencoba mengadu nasib di perkota-an dengan melakukan urbanisasi, mereka justru memilih desa sebagai lokasi pengembangan usaha.

Tak mudah menjangkau lokasi perkampungan kelompok pencari belut di Gresik, karena tempat tinggal mereka yang lumayan terpencil. Mereka tinggal di Kampung Polo Ombo Desa Tajungrejo Kecamatan Ujung Pangkah.

Di samping lokasinya yang terpencil, kampung mereka berada di seberang sungai Bengawan Solo, sehingga perlu menyeberanginya dengan perahu, sebagai satu-satunya sarana penyeberangan. Di samping itu, jalan setapak serta sejumlah areal tambak, menambah lambatnya perjalanan menuju kampung mereka.

Suasana perkampungannya pun, terlihat sederhana. Namun, siapa yang mengira, peredaran uang di kampung belut ini bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap minggunya.

Para pencari belut yang jumlahnya mencapai 100 orang lebih tersebut, rata-rata berasal dari kecamatan Juana dan Kecamatan Demak Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Mereka telah menempati perkampungan ini, sejak tahun 1993, dengan usaha pencarian belut. Selama itu pula, suasana kerukunan antar sesama anggota, selalu terbina dengan baik.

Sebagian besar daerah kecamatan Ujung Pangkah, merupakan tanah pertambakan ikan bandeng dan dan udang windu. Sehingga, belut, mudah sekali berkembang biak di wilayah ini. Agaknya, alasan inilah, yang menjadikan kelompok pencari belut ini, memilih kecamatan ujungpangkah, sebagai lokasi pengembangan usaha.

Setiap harinya, mereka mencari tambak yang sedang panen. Kadang-kadang, jaraknya bisa mencapai 10 kilo meter lebih. Satu-satuunya sarana transportasi yang mereka gunakan, adalah mengarungi sungai bengawan solo dengan menggunakan perahu milik mereka sendiri.

Setelah mendapatkan tambak yang sedang di panen, mereka menunggu di pinggir tambak, hingga proses panen, usai. Setelah itu, baru mereka memperlihatkan keterampilannya dalam menangkap binatang yang terkenal licin tersebut.

Menangkap belut tidak mudah dan membutuhkan keterampilan khusus. Di samping terkenal binatang licin, belut hidup di tengah lumpur dengan membangun lubang, sebagai sarangnya. Para pencari belut ini, harus teliti dan sabar, menangkap satu persatu belut, di tengah panasnya terik matahari dan kubangan lumpur yang menenggelamkan sebagian tubuh mereka.

“Menangkap belut gampang-gampang susah. Tapi hasilnya memang lebih banyak dari pada kerja kasar lainnya”, ujar Nurrahman, salah seorang pencari belut.

Rata-rata, masing-masing dari pencari belut ini, mampu menangkap 5 hingga 15 kilo gram belut, setiap harinya. Harga 1 kilo gram belut bakar, mencapai 12 ribu rupiah di tingkat pengepul.

Menjelang sore, mereka kembali ke perkampungan dengan membawa puluhan ekor belut serta kayu bakar dari ranting pohon bakau, yang akan di gunakan sebagai kayu bakar.

Setelah di cuci, belut-belut ini kemudian di bakar bersama-sama. Berbeda dengan belut ternak, belut-belut liar ini, memiliki rasa dan kandungan protein yang khas. Sehingga, rasa alaminya, banyak di sukai konsumen.

Proses pembakaran belut, biasanya dipimpin langsung oleh nadi, ketua kelompok, yang sekaligus sebagai satu-satunya pengepul belut di wilayah ini. Nadi, yang telah merintis usaha sejak tahun 1993 ini, mengaku tak menemui kendala berarti dalam menjalankan usahanya. Bermula dari sekedar mencoba, usaha penjualan belut ini, terus berkembang dari tahun-ketahun.

Oleh Nadi, belut bakar alami ini, kemudian di jual langsung ke semarang jawa tengah. Setiap harinya, Nadi bisa menjual belut, hingga mencapai 3 kwintal dengan harga 20 ribu rupiah perkilonya.

Yang terpenting bagi Nadi, adalah membagi keterampilannya dalam menangkap dan menjual belut pada rekan-rekannya. Bahkan, perkampungan sederhana yang di bangunnya ini, telah banyak membantu meringankan beban ekonomi bagi para pengangguran yang sedang bingung mencari pekerjaan.

0 comments:

Post a Comment