DRAMA KOLOSAL PENOBATAN ‘SUNAN GIRI’ SEBAGAI PENGUASA GRESIK

Kendati dibawah hujan deras, namun semangat Prabu Satmoto (Sunan Giri) yang diperankan oleh Bupati Gresik, Dr. Sambari Halim Radianto. Syekh Gerigis yang diperankan oleh Wakil Bupati, Drs. Mohammad Qosim dan Syekh Kujo yang diperankan oleh Sekda Gresik, Ir. Moh. Najib sangat menggebu menaiki kereta kencana yang dipersiapkan di Jalan Sunan Giri Gresik. Ketiganya menaiki kereta kencananya masing-masing.

Saat akan menaiki kereta kencana, ribuan masyarakat Gresik tampak mengelu-elukan. Seakan tak memperdulikan hujan yang turun dengan deras, mereka pada berebutan ingin bersalaman dengan ketiga tokoh ‘pendiri Gresik’ tersebut sebelum iring-iringan kereta kencana berangkat menuju pendopo Bupati Gresik. Tak hanya sampai disitu, sepanjang perjalanan, masyarakat Gresik yang memadati jalur perjalanan kereta kencana ini, memberikan tangannya untuk bisa bersalaman dengan Bupati, Wakil Bupati dan Sekda Gresik.

Untuk kedua kalinya penobatan Prabu Satmoto (Sunan Giri) direkontruksi kembali. Pagelaran Drama kolosal untuk yang kedua kalinya ini merupakan rangkaian peringatan HUT Pemkab Gresik ke 39 dan hari jadi kota Gresik ke 526. Bupati Gresik Dr. Sambari Halim Radianto nguri-uri kembali sejarah Gresik. Kali ini Bupati, Wakil Bupati dan Sekda Gresik berupaya menghidupkan kembali tokoh-tokoh pendiri Gresik pada masa 526 tahun yang lalu. Prosesi penobatan Prabu Satmoto (Sunan Giri) yang dulu itu diulang kembali di Situs Giri Kedaton, pada hari ini tepat Hari Jadi kota Gresik ke 526, Sabtu (9/3).

Perhelatan yang merupakan drama kolosal ini mengikutsertakan Muspida, tokoh masyarakat dan semua pejabat Pemkab Gresik dan masyarakat sekitar Giri Kedaton. Bak seorang Sutradara, KH. Muchtar Djamil mengatur segala sesuatunya mulai dari peyutradaraan, layout, properti, penentuan busana, sampai pada penulisan script serta narasi, semuanya dikerjakan oleh kyai yang juga ahli sejarah Gresik ini. Bahkan yang paling detiel tentang layout dan property, semuanya tak lepas dari tangan dingin Kyai Muchtar.

Dalam plot sejarah yang dibangun sesuai Setting yaitu prosesi penobatan Prabu Satmoto (Sunan Giri) pada 9 Maret 1487. Bupati Gresik, Dr. Sambari Halim Radianto memerankan tokoh Sunan Giri, Wakil Bupati, Drs. Mohammad Qosim, M.Si memerankan Syeh Gerigis. Kedua tokoh ini mengenakan jubah berwarna putih dan surban putih untuk penutup kepala. Mereka juga mengalungkan kain surbanmasing-masing berwarna kuning gading dan putih. Sedangkan Sekda Ir. Moch Najib yang memerankan Syeh Kudjo memakai jubah warna hitam.

Seperti yang telah diatur oleh Kyai Muchtar. Wabup dan Sekda dalam perannya memakai (nyengkelit) keris didepan dan membawa tasbih. Tidak demikian dengan Bupati yang memerankan Sunan Giri. “Keris, tasbih dan tongkat diserahkan saat penobatan sebagai tanda telah resmi penobatan Joko Samudro (nama kecil Sunan Giri) menjadi Prabu Satmoto/Sunan Giri”jelas Muchtar Djamil.

Ketelitian seorang Muchtar Djamil sebagai sutradara memang patut diacungi jempol. Dia sangat teliti dalam mendiskripsikan ruang. Sebut saja tentang pemasangan penjor dan jumlahnya. Kyai Muchtar menentukan dimana penjor itu harus dipasang. Beliau mensyaratkan dilokasi Giri Kedaton hanya boleh dipasang hiasan penjor Janur. Hiasan Penjor Janur itu sebanyak 7 pasang. Tempatnyapun sudah ditentukan, yaitu ujung gang masuk Sunan Giri, Gang Masuk menuju Giri Kedaton, ujung tangga naik (masuk) bagian bawah, trap keluar (turun) masjid, ujung tangga turun (keluar) bagian atas dan bagian bawah, ujung gang keluar menuju Sunan Giri.

Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik, Andhy Hendro Wijaya yang mengikuti sejak awal rekonstruksi sejarah prosesi penobatan Prabu Satmoto mengatakan, salut atas ketelitian serta detil yang ditata oleh Kyai Muchtar Djamil. “Semuanya diatur sedemikian rupa. Bahkan propertinya saja asli, misalnya keris yang dipakai pada penobatan itu adalah keris asli peninggalan Sunan Giri. Namun demikian, setelah selesai penobatan, langsung keris itu dikembalikan dan diganti dengan keris duplikat”ujar Andhy.

Tentang iring-iringan kereta kencana pada Cannaval prosesi kali ini. Tampak ada miniatur kapal yang bertuliskan Nyai Gede Pinatih. Kapal ini berjalan di depan kereta Bupati Gresik. Konon kapal ini merupakan miniatur kapal dagang milik Nyai Gede Pinatih ibunda Sunan Giri. Ditambahkan oleh Andy, peserta karnafal kali ini sekitar 100 kelompok. Selain rombongan Bupati, Muspida dan Karyawan Pemkab Gresik, terdaftar puluhan kelompok lain mulai dari kelompok kesenian, klub dan komunitas, sekolah dan pelajar, organisasi masyarakat, Perbankan, Perusahaan serta dari beberapa simpatisan dari luar daerah. (sdm, Humas pemkab Gresik)



digg it
buzz yahoo
google
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
reddit

0 comments:


Post a Comment

Posting Terakhir

 
  • Melukis Daun Banyaknya daun kering berjatuhan akibat musim kemarau, mengispirasi siswa sekolah dasar di Gresik Jawa Timur, melukis di daun kering. Dengan kegiatan ini, siswa bisa memahami, jika sampah daun, bisa di manfaat....
  • Sharing Foto di Yahoo Messenger Yahoo Messenger atau yang sering disingkat dengan YM memiliki fasilitas untuk share picture kepada chatter lain. Dengan demikian jika dua chatter saling melakukan Private Message, maka keduanya bisa saling...
  • Mujaher Korek Menu ikan panggang banyak di jumpai di sejumlah daerah. Namun, menu ikan mujaher panggang dengan sambal terasi pedas khas Jawa Timuran, hanya ada di Lamongan. Mujaher panggang hadir dengan....
  • Batik Gorga Khas Batak Memadukan motif khas Batak dengan aneka warna, bengkel kreasi yang telah berdiri sejak tahun 2008 lalu, menghasilkan aneka ragam kain batik khas tanah Batak yang memiliki nilai estetika yang cukup tinggi....
  • Awet Muda Dengan Pisang Getuk merupakan makanan tradisional, umumnya terbuat dari singkong. Namun, warga di kaki gunung Slamet tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja,...