ADA 25 PRODUK IMPORT YANG DIKENAKAN BEA TAMBAHAN ANTI DUMPING

Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) mengingatkan, ada 25 produk import yang masuk Indonesia diberi sangsi penambahan bea masuk anti dumping selain bea masuk normal. 25 produk tersebut merupakan bagian dari 44 produk yang dilaporkan oleh dunia usaha dalam negeri. “Tentang besarnya sangsi bervariasi, ada yang mencapai 68 prosen dari harga produk” Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Ketua KADI, Joko Wiyono saat memberikan bimbingan Teknis anti dumping kepada sekitar 100 orang pelaku usaha yang berlangsung di Hotel Sapta Nawa Kamis (18/4).

Untuk di ketahui, dumping adalah praktek "membuang" produksi dalam negeri ke luar negeri dengan tujuan menjatuhkan lawan saing. Dumping dilakukan dengan menjual barang ke luar negeri dengan harga yang serendah2nya hingga di bawah harga pokok produksi. Jadi, net penjualan rugi pun tidak masalah, namun perusahaan akan tetap untung dengan penjualan produksi di dalam negeri yang menguntungkan. (http://id.answers.yahoo.com)

Upaya KADI dengan menggandeng Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik ini sebagai upaya untuk melindungi pengusaha dalam negeri dalam kelanjutan usahanya, karena selama ini praktek dumping kian marak. “Apalagi saat ini ada kecenderungan semakin terbukanya perdagangan bebas dunia. Meningkatnya produk import terutama yang dijual dengan harga yang tidak wajar akan mengancam keberlangsungan dunia usaha didalam negeri”tandas Joko.

Selain 25 produk yang disangsi, ada 16 produk lain yang ternyata dihentikan kasusnya mengingat produk tersebut tidak melakukan dumping serta 3 produk lainnya masih dalam proses. “Setelah kami lakukan Penyelidikanserta pembuktian kerugian ternyata tidak ada kerugian dari tak terbukti melakukan dumping, maka 16 produk tersebut dihentikan”ujarnya.

Diantara prtoduk-produk yang disangsi karena praktek dumping itu antara lain, obat-obatan, beberapa produk logam, tepung terigu, karbit dan bahkan produk hultikultura yaitu pisang Cavendish.

Upaya Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik dengan menggandeng Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) setidaknya memberikan pemahaman kepada para pelaku usaha yang ada di Gresik untuk segera menyadari, betapa Pemerintah telah memberikan solusi anti dumping sekaligus mekanismenya. “jangankan produk fabrikasi, produk holtikultura saja sudah ada yang disangsi” ujar Najikh prihatin.

Tentang pentingnya Bimbingan Teknis pengenalan dumping dan anti dumping ini kepada pelaku UKM, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik M. Najikh, menyatakan hal ini untuk menyadarkan mereka apabila terjadi praktek dumping terhadap produknya“Para pelaku UKM ini bisa melakukan permohonan pengaduan melalui asosiasinya untuk mengajukan permohonan penyelidikan praktek dumping pada suatu produk”.

Pada bimbingan teknis selama sehari ini, para pelaku UMK diberi cara-cara pelaporan sesuai mekanisme sekaligus mengidentifikasi tentang produk dumping. Adapun instruktur bintek tersebut berasal dari Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Jakarta. (sdm, Humas Pemkab Gresik)

0 comments:

Post a Comment