BUKAN COBLOS BUKAN CONTRENG, TAPI CUKUP KLIK

Pemilihan Umum selama ini kita masih menggunakan surat suara kertas yang dicoblos. Ke depan coblos mungkin bakal tidak digunakan dan diganti dengan klik, karena kini sudah ditemukan sistem manajemen suksesi, yakni tempat pemungutan suara berbasis teknologi informasi. Sayang, penerapan software ini masih cukup mahal karena satu bilik harus ada satu set komputer.

Software sistem manajemen suksesi temuan mahasiswa Politeknok Elektro Negeri Surabaya Jawa Timur ini, di uji coba dalam pemilihan ketua perhimpunan mahasiswa teknik informatika dan sejauh ini berjalan lancar. Panitia membangun tempat pemungutan suara serba komputer, kecuali data validasi pemilih yang diberikan secara manual karena sekali pakai, dan langsung buang. Sama dengan pemilihan manual, semua pemilih yang berhak memilih dimasukkan ke daftar pemilih tetap, dengan identitas kartu mahasiswa atau ktp. Pemilih yang datang menunjukkan kartu identitas, kemudian divalidasi, jika terdaftar kemudian diberi nomor validasi dan dipersilakan masuk ke bilik yang kosong.

Di tempat pemungutan suara, para pemilih mendapat penjelasan cara memilih secara singkat, kemudian muncul surat suara digital yang menampilkan pasangan calon yang akan dipilih. Pemilih tinggal klik kiri dua kali, kemudian memasukkan data validasi, dan jika pilihannya tidak ada masalah akan dinyatakan selesai dan bisa meninggalkan bilik. Pilihan pemilih dalam tiga bilik ini, akan masuk dalam satu server dan server baru bisa dibuka setelah pemilu atau proses pemungutan suara selesai.

Mengenai keberadaan saksi dalam pemilu, sistem ini juga mengakomodasinya dengan memberi mereka username dan password. Untuk membuka server semua saksi harus memasukkan username dan passwordnya dan jika satu saja saksi tidak memasukkan username dan password, maka server tidak akan bisa dibuka. ‘Dari sisi keamanan, ini sudah cukup handal”, ujar Reza Budi Prasetyo, pencipta software Sistem Manajemen Suksesi.

Meski sudah bisa diterapkan dalam pemilihan skala kecil di kampus, namun teknologi pengganti pemungutan suara ini masih belum realistis diterapkan di masyarakat umum karena berbagai kendala. Pertama, teknologi ini jelas mahal, karena satu tps dengan tiga bilik membutuhkan tiga set komputer, dan satu server yang nilainya sekitar 13 juta rupiah. Kedua, masalah sumber daya manusia yang mengoperasikan rata-rata belum siap, dan ketiga, masyarakat umumnya yang tinggal di pedesaan, belum ramah dengan teknologi informasi sehingga sulit beradaptasi meski hanya klik saja.

0 comments:

Post a Comment