MENGOLAH LIMBAH KULIT KETELA DAN KULIT KACANG MENJADI PAKAN TERNAK

Limbah kulit ketela dan kacang biasanya hanya dibuang dan menjadi sampah. Namun, di tangan seorang pemuda asal Pati, Jawa Tengah, limbah buangan pabrik tersebut bisa diolah menjadi pakan ternak sapi bermutu dan bernilai jual tinggi.

Tumpukan sak yang ada di gudang milik Kalimi, Warga Desa Klecoregonang, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati adalah limbah kulit kacang yang dibuang pabrik makanan ringan. Di gudang lain adapula limbah kulit ketela hasil buangan dari pabrik tapioka.

Sepintas kedua limbah ini seperti tak bernilai. Bahkan sebagian masyarakat menganggap sampah yang mengotori lingkungan. Namun, siapa sangka dari kedua limbah inilah sebuah produk bernilai jual tinggi bisa diciptakan. Kalimi, bisa menyulap kedua limbah itu menjadi pakan ternak sapi yang bermutu dan bernilai jual tinggi.

Proses yang dilakukan cukup sederhana. Kedua limbah dicampur dan diaduk dengan tambahan beberapa bahan lain seperti bekatul dan biji jagung. Untuk mengurai bahan ini, digunakan bakteri pengurai e.m empat yang diciptakan sendiri oleh Kalimi dari buah-buahan busuk.

Hanya dalam waktu dua hari, proses fermentasi telah mencapai seratus persen dan dilanjutkan dengan penghalusan menggunakan mesin. Tahap akhir adalah pengepakan dalam karung sak ukuran lima puluh kilogram.

Kalimi yang merupakan lulusan sarjana muda, jurusan seni musik tersebut mengaku, ide membuat pakan ternak ini terdorong oleh keinginan membantu ayahnya menyediakan pakan bagi sapinya sepanjang musim. Dengan pengetahuan diperoleh secara otodidak dia akhirnya berhasil mengolah limbah pabrik kacang dan tapioka menjadi pakan ternak.

Menurut Kalimi, awalnya produk pakan ternak buatannya hanya dipakai peternak di desanya. Namun, seiring waktu produk pakan ternak Kalimi telah menyebar hingga ke boyolali dan yogyakarta. Bahkan hingga ke Bali dan beberapa pulau di luar Jawa. “Usaha ini jatuh bangun”, ujarnya.

Kini, dalam sebulan Kalimi memproduksi sedikitnya seratus delapan puluh ton pakan ternak dengan harga jual tujuh puluh ribu rupiah per sak, isi lima puluh kilogram.

0 comments:

Post a Comment