BUDIDAYA PEPAYA KALINA DI LAHAN TANDUS

Siapa mengira, jika Pepaya manis dengan warna yang memikat selera ini di budidaya di lahan tandus di sebuah desa terpencil di Lamongan Jawa Timur, tepatnya di Desa Candisari Kecamatan Sambeng (18/10/2015). Warga setempat sejak dua tahun terakhir membudidaya Pepaya janis Kalina, yakni jenis Pepaya dalam negeri yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Institut Pertanian Bogor.

Pepaya hasil penelitian anak negeri ini tidak kalah jika dibanding dengan Pepaya impor. Selain rasanya manis, Pepaya ini memiliki tekstur buah yang cukup padat sehingga sangat baik untuk di konsumsi.

Pepaya Kalina ini cocok ditanam di daerah kering sehingga petani di desa Candisari yang berada di wilayah selatan lamongan ini antusias untuk menanamnya. Lahan yang ditanami Pepaya ini sebelumnya merupakan lahan tandus yang hanya ditanami kedelai dan jagung. Sejak bercocok tanam Pepaya, penghasilan mereka pun berubah.

“Para petani sangat terbantu sekali dengan budidaya papaya ini”, ujar Kohar, salah seorang petani.

Satu hektare lahan bisa ditanami seribu hingga seribu lima ratus pohon Pepaya. Sementara satu pohon bisa menghasilkan satu hingga tiga buah sekali petik.

Pepaya Kalina baru bisa dipanen jika sudah berusia tujuh bulan. Namun setelah berbuah, para petani bisa melakukan panen antara lima hingga tujuh hari sekali. Sementara peremajaan pohon bisa dilakukan setelah Pepaya berusia tiga tahun. Di lahan seluas satu hektare, para petani bisa memanen sebanyak sebelas ton per bulan.

Harga satu buah Pepaya mencapai Dua Ribu Hingga Tiga Ribu Rupiah perbuah, tergantung dari ukuran dan kualitas buah. Petani yang memiliki satu hektare kebun Pepaya bisa meraup penghasilan dua puluh hingga tiga puluh juta per bulan.

Untuk memasarkan buah Pepaya tidak sulit karena sudah ada pihak yang menampung berapapun hasil panen petani. Rata-rata buah Pepaya ini dipasarkan di toko buah tradisional dan modern di sebagian besar kota di pulau jawa.



0 comments:

Post a Comment