Festival Kupatan ala warga pesisir pantura Lamongan

Tradisi kupatan masyarakat pantura Lamongan bakal dijadikan agenda tahunan oleh Pemkab Lamongan. Hal itu disampaikan Bupati Fadeli usai menghadiri Festival Kupatan Tanjung Kodok Lamongan di Wisata Bahari Lamongan, Kamis (14/7).

         “Ini bagian dari upaya kami, Pemkab Lamongan untuk melestarikan tradisi masyarakat Lamongan. Apalagi tradisi kupatan di masyarakat pantura ini memiliki makna filosofi yang tinggi, “ ujar Fadeli.

            Dulu, katanya menyebutkan, di Tanjung kodok yang kini menjadi WBL setiap tujuh hari setelah Idul Fitri dilaksanakan peringatan Hari Raya Ketupat, atau disebut kupatan oleh masyarakat setempat.

            “Melalui festival ini, kami ingin menghidupkan kembali tradisi leluhur. Terutama untuk memaknainya sebagai bagian untuk mengenang kegigihan syiar yang dilalukan oleh Sunan Drajat dan Sunan Sendang Dhuwur, “ katanya menjelaskan.

            Fadeli juga berencana menjadikan Festival Kupatan itu menjadi agenda tahunan dengan skala yang lebih besar. “Saat ini baru diikuti masyarakat di pantura. Nantinya akan diikuti perwakilan dari seluruh kecamatan di Lamongan sehingga bisa menjadi event nasional, “ imbuhnya.

            Festival itu diawali dengan defile perahu hias nelayan yang membawa masakan kupat dengan berbagai ukuran. Fadeli bersama Wabup Kartika Hidayati, Sekkab Yuhronur Efendi dan Forkopimda setempat turut dalam defile di dermaga marina WBL tersebut.

            Kenduri kupat, yakni makan beramai-ramai kupat dengan berbagai sayur dan olahan lauk oleh pejabat dan seluruh masyarakat pantura Lamongan menjadi penanda puncak festival tersebut.

Dalam festival itu, kupat buatan nelayan dengan menilai keunikan bentuk, hiasan perahu defile, komposisi dan rasa ketupat saat dicampur dengan lauk pauk juga dilombakan.

Sementara menurut penyaji sejarah kupatan, Hidayat Iksan, tradisi Riyoyo Kupat (Hari Raya Ketuapat) itu telah menjadi kebiasaan turun temurun masyarakat Paciran dan sekitarnya.

Dikatakannya, di Riyoyo Ketupat itu mereka melakukan kebiasaan besiar, mengunjungi sanak famili, tempat bersejarah di Makam Sunan Drajat dan Sunan Sendang Dhuwur dan lainnya.

Puncaknya, sebut dia, menjelang siang mereka berkumpul di Tanjung Kodok dengan membawa bekal kupat dan lepet. Di Tanjung Kodok itu pula, Sunan Drajat dan Sunan Sendang Dhuwur menjamu utusan Mbok Rondo Mantingan dengan kupat dan lepet dalam kisah “Adeke Masjid Sendang Dhuwur”, kisah pendirian masjid Sendang Dhuwur.

0 comments:

Post a Comment