This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

TERNYATA LIMBAH CAIR TAHU ITU BISA DIBUAT BAHAN PANGAN

Masyarakat Desa Gadingwatu dan Domas diajari mengolah Limbah cair tahu dioleh menjadi nata de soya(semacam nata de coco). Serta mengolah limbah padat (ampas tahu) dioleh menjadi pupuk cair, biogas dan kompos. 

 

Kalau kita berjalan-jalan disekitar pabrik pembuatan tahu. Tentu yang tercium aroma yang kurang sedap. Bau ini ditimbulkan oleh limbah dari pabrik pembuatan tahu. Baik itu limbah cair serta limbah padat yang berupa ampas tahu. Tentu saja banyak sekali yang merasa terganggu dengan bau tidak sedap yang dikeluarkan oleh limbah tahu ini, terutama bagi masyarakat sekitar pabrik.

 

Sampai saat ini tak banyak orang yang memanfaatkan limbah ini secara optimal. Hanya ampas tahu yang  dipakai sebagai makanan ternak. Serta sebagian orang yang memanfaatkan limbah ini untuk dipakai sebagai makanan semacam tempe. Dari sisi ekonomis, tentu saja pemanfaatan masih kurang optimal. Selain itu bau yang ditimbulkan tentu saja sangat mengganggu masyarakat sekitar.

 

Atas dasar itulah Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik berupaya untuk membantu menyelesaikan. Didatangkanlah pakar biologi dari Unesa Surabaya, Dra. Winarsih M.Kes untuk memberikan pelatihan kepada Masyarakat Desa Gadingwatu dan Desa Domas. Pelatihan diikuti oleh 35 orang yang terdiri dari Pengusaha tahu dan karyawan pabrik tahu.

 

Pelatihan ini berjalan seru. Hal ini karena masyarakat peserta sangat antusias mengikuti. Mereka optimis industry hilir dari limbah pabrik tahu ini bisa dilaksanakan dengan sukses. Yang paling dapat perhatian lebih yaitu pembuatan nata desoya dari limbah cair pabrik tahu. Seperti yang disampaikan oleh instrukturnya. “Masyarakat sangat tertarik untuk membuat nata de soya karena ada nilai peningkatan ekonomis yang tinggi” ujarnya.

 

Untuk pembuatan nata de soya, dari modal Rp. 100 ribu bisa menghasilkan Rp. 500 ribu. “Dengan memproses limbah cair tahu lalu ditambah bakteri kemudian ditunggu sekitar 14 hari jadilah nata desoya. Saya yakin produk nata de soya ini laris dan tidak sulit cara memasarkan” kata Winarsih, dosen  yang juga praktisi peduli lingkungan serta pakar pengolahan limbah.

 

Selain memberikan pelatihan pembuatan nata de soya, Winarsih juga melatih warga untuk membuat pupuk cair. “Kalau beli pupuk cair jadi harganya puluhan ribu perliter, kalau dibuat dari fermentasi ampas tahu ini anda bisa gratis bahkan bisa menjual. Hanya memanfaatkan penambahan bakteri” tambahnya sambil menunjukan hasilnya akhir pupuk tersebut. 

 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik, Najikh sangat mengapresiasi antusias warga peserta pelatihan tersebut. “Ternyata tak hanya karyawan pabrik, juragan tahu juga ikut serta” ujarnya. “Disini ada empat pabrik tahu yang masing-masing mempekerjakan orang antara lima puluh dan bahkan ada yang sampai seratus orang lebih ” kata Najikh.

 

Antusias ini ditunjukkan oleh Haryono salah seorang peserta. “ Ya kalau untuk membuat nata de soya saya pingin coba. Mumpung ini menjelang bulan puasa serta sebentar lagi lebaran. Saya yakin saat puasa dan lebaran nanti pasti nata de soya ini akan laku keras’ katanya optimis. (sdm) 

BERNOSTALGIA DENGAN SUASANA WARUNG MAKAN TEMPO DOELOE

Aneka jenis makanan dan desain warung yang sengaja dipola dengan ornamen kuno mengingatkan kembali warga Lamongan pada kondisi 'tempoe doeloe'. Festival Lamongan Tempoe yang berlangsung selama dua hari di Alun-Alun Kota Lamongan (19-20/08/2016).

Aneka jenis makanan diantaranya Serabi, Tiwul, Gulali, Gaplek dan lain sebagainya banyak disajikan dalam festival ini. Bahkan, wadah seperti gelas dan piring pun juga menggunakan bahan yang terbuat dari bahan tanah liat.
Tak hanya itu, puluhan standar milik Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Lamongan ini sengaja didesain dengan bahan bambu dengan alat penerang lampu teplek.

Bupati Lamongan, H. Fadeli, MM, suasana dan jenis makanan yang disajikan di dalam Pameran sudah jarang sekali ditemukan. Kondisi ini juga bisa mengingatkan kita pada masa kecil dulu. "Selagi kita memperingati Hari Kemerdekaan, tak ada salahnya kita mengingat kembali kondisi saat masa-masa perjuangan dulu dengan kondisi serba sederhana", Ujar Bupati saat membuka pameran tadi malam.

Menyinggung tentang vitamin dan gizi, tak diperlukan diragukan lagi, karena bahan utama makanan tempoe doeloe terbuat dari bahan alami dengan proses alami pula. " Justru saat ini banyak orang yang kembali mengkonsumsi makanan kuno karena kesehatannya yang terjamin dari bahan dan proses memasak yang alami, tambah Bupati.

Sejak dibuka sore ini, ribuan warga mengunjungi berbagai stand untuk menikmati langsung makanan tempoe doeloe serta berbelanja sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

NENEK MANTAN KURIR SURAT PEJUANG YANG TERLUPAKAN

Banyak kisah-kisah heroik para pejuang yang berjasa dalam mewujudkan Kemerdekaan Indonesia dan kini perjuangan mereka terlupakan oleh generasi muda. Salah satunya adalah Soebekti (83 tahun), warga Jl. Dr. Wahidin 249 Kota Lamongan Jawa Timur (16/08/2016.)

Saat masa-masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945, Nenek dengan 5 anak tersebut dulunya adalah seorang guru di Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro. Disela-sela kegiatannya sebagai guru, Soebekti diam-diam membantu tentara Indonesia dengan menjadi kurir surat dari pimpinan tentara saat itu.

Tentu hal ini bukan tugas ringan, mengingat surat rahasia yang dibawanya berisi perintah-perintah rahasia militer. "Saya harus berjalan kaki sejauh 40 km utk mengantarkan surat. Kadang, saya harus menceburkan diri ke sungai untuk menghindari patroli Belanda", ujar Nenek Soebekti.

Keberanian Soebekti bukan tanpa alasan,  selain jiwa nasionalisme yang tertanam di dadanya, suami sang Nenek adalah anggota tentara berpangkat Peltu bernama Kasboellah.

"Jika situasinya cukup genting, kami sekeluarga mengungsi ke daerah aman", kenang Soebekti.

Meski dengan bahasa yang kadang sulit dimengerti, namun, semangat perjuangannya masih terlihat dari Tutur katanya yang tegas dan tegar.

Kini, nenek Soebekti menghabiskan masa tuanya di rumahnya setelah suaminya meninggal beberapa tahun lalu.

Disetiap peringatan Hari Kemerdekaan, nenek Soebekti mendapat undangan kehormatan dari Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk menghadiri Upacara Detik-detik Kemerdekaan.

BUDIDAYA BELUT DENGAN MEDIA BEKAS KEMASAN CAT

Sebuah cara baru dilakukan warga di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam membudidayakan belut. Yaitu, dengan menggunakan bekas kemasan cat yang ditambahi tanah dan dialiri air. Selain lebih murah, belut juga bisa lebih aman, karena, terjaga dari serangan binatang lain.

Cara baru budidaya belut dengan menggunakan bekas kemasan cat ini dikembangkan sekelompok warga di Dusun Jowah, Desa Sidoluhur, Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tergabung dalam Pusat Pembelajaran Dan Pengembangan Belut Godean.

Cara budidaya ini sangat mudah dan sederhana. Mula-mula, sediakan bekas kemasan cat berukuran 25 kilogram. Buatlah lubang pada bagian tutupnya, sebagai lubang udara bagi belut.

Setelah itu, isi dengan tanah gembur secukupnya, dan aliri air. Diamkan tumpukan tanah yang dialiri air tersebut hingga benar-benar tidak ada celah udara di dalamnya. Adanya celah udara di dalam tumpukan air ditunjukkan dengan masih adanya gelembung udara yang muncul saat tumpukan tanah diaduk atau disentuh.

Setelah benar-benar tidak ada celah udara di dalamnya, masukkan 5 hingga 7 belut ke dalam masing-masing kemasan, dengan komposisi satu belut jantan untuk tiga belut betina. Selanjutnya, tutup bagian atasnya dan terus aliri air. Beri makan belut pada sore hari, dengan makanan alami berupa cacing. Jika sudah beranak, pisahkan anakan belut ke kolam lain untuk dikembangkan lebih lanjut.

Cara budidaya belut dengan bekas kemasan cat ini dikembangkan, menyusul kegagalan metode budidaya belut yang selama ini ada, yaitu di area persawahan. Dengan metode itu, banyak belut yang dikembangkan ternyata tak bisa dipanen, karena, dimakan binatang lain.

Selain lebih murah, dengan cara baru ini, indukan dan anakan belut bisa lebih terjaga dan aman dari serangan binatang lain, karena, diletakkan di lokasi yang tertutup.

Mereka berharap, dengan cara baru ini, produksi belut di wilayah tersebut bisa semakin meningkat dan memenuhi kebutuhan warga setempat. Meski sudah dikenal sebagai ikon wilayah setempat, kebutuhan bahan baku bagi perajin kripik dan olahan belut lainnya di Godean, hingga kini, ternyata masih harus didatangkan dari luar kota, akibat minimnya budidaya di wilayah itu.