BUDIDAYA BELUT DENGAN MEDIA BEKAS KEMASAN CAT

Sebuah cara baru dilakukan warga di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam membudidayakan belut. Yaitu, dengan menggunakan bekas kemasan cat yang ditambahi tanah dan dialiri air. Selain lebih murah, belut juga bisa lebih aman, karena, terjaga dari serangan binatang lain.

Cara baru budidaya belut dengan menggunakan bekas kemasan cat ini dikembangkan sekelompok warga di Dusun Jowah, Desa Sidoluhur, Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tergabung dalam Pusat Pembelajaran Dan Pengembangan Belut Godean.

Cara budidaya ini sangat mudah dan sederhana. Mula-mula, sediakan bekas kemasan cat berukuran 25 kilogram. Buatlah lubang pada bagian tutupnya, sebagai lubang udara bagi belut.

Setelah itu, isi dengan tanah gembur secukupnya, dan aliri air. Diamkan tumpukan tanah yang dialiri air tersebut hingga benar-benar tidak ada celah udara di dalamnya. Adanya celah udara di dalam tumpukan air ditunjukkan dengan masih adanya gelembung udara yang muncul saat tumpukan tanah diaduk atau disentuh.

Setelah benar-benar tidak ada celah udara di dalamnya, masukkan 5 hingga 7 belut ke dalam masing-masing kemasan, dengan komposisi satu belut jantan untuk tiga belut betina. Selanjutnya, tutup bagian atasnya dan terus aliri air. Beri makan belut pada sore hari, dengan makanan alami berupa cacing. Jika sudah beranak, pisahkan anakan belut ke kolam lain untuk dikembangkan lebih lanjut.

Cara budidaya belut dengan bekas kemasan cat ini dikembangkan, menyusul kegagalan metode budidaya belut yang selama ini ada, yaitu di area persawahan. Dengan metode itu, banyak belut yang dikembangkan ternyata tak bisa dipanen, karena, dimakan binatang lain.

Selain lebih murah, dengan cara baru ini, indukan dan anakan belut bisa lebih terjaga dan aman dari serangan binatang lain, karena, diletakkan di lokasi yang tertutup.

Mereka berharap, dengan cara baru ini, produksi belut di wilayah tersebut bisa semakin meningkat dan memenuhi kebutuhan warga setempat. Meski sudah dikenal sebagai ikon wilayah setempat, kebutuhan bahan baku bagi perajin kripik dan olahan belut lainnya di Godean, hingga kini, ternyata masih harus didatangkan dari luar kota, akibat minimnya budidaya di wilayah itu.

0 comments:

Post a Comment