KEMARAU BASAH, PRODUKSI GARAM TURUN

Musim hujan masih menjadi momok bagi petani garam di Lamongan. Target produksi sebesar 30 ribu ton yang ditetapkan Pemkab Lamongan dipastikan sulit tercapai.

Pemkab Lamongan sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Suyatmoko melalui Kabag Humas dan Infokom Sugeng Widodo sebenarnya sudah mengupayakan membuat rumah prisma yang mampu memproduksi garam lebih cepat.

Saat ini, sudah ada empat unit rumah pompa yang dibangun beserta tandon airnya. Dengan rumah prisma yang masing-masing berukuran 49 meter persegi tersebut, garam akan terbentuk dalam dua hari dengan masa panen seminggu setelahnya.

“Kedepan perlu diperbanyak lagi rumah prisma untuk petani garam. Karena rumah pompa ini jauh lebih efektif dan efisien dibanding dengan produksi garam di tempat terbuka yang harus menunggu hingga selama 40 hari. Itupun baru bisa dipanen dua minggu setelah garam terbentuk, “ katanya memberikan gambaran.

Ditambahkan olehnya, pada setiap meter persegi rumah prisma, mampu dihasilkan 1 kilogram garam.

Sementara dengan datangnya hujan yang lebih cepat. Dia menyebut realisasi produksi garam di tahun ini dipastikan akan tidak sebanyak tahun lalu.

“Tahun ini hujan datang lebih cepat. Di bulan-bulan yang biasanya masih kemarau, justru turun hujan, atau kemarau basah. Hal ini menyebabkan produksi garam yang sebelumnya ditargetkan 30 ribu ton sulit untuk bisa terealisasi, “ ujarnya.

Disebutkan olehnya, sampai dengan bulan September ini, realisasi produksi garam masih berkisar kurang lebih 1.000 ton. Itu jauh menurun, jika dibandingkan dengan realisasi bulan September tahun 2015 yang sudah mencapai 30 ribu ton.

Sedangkan di akhir tahun 2015, dari target 30 ribu ton, bisa terealisasi 38.804 ton produksi garam.

Selain itu, untuk luasan areal produksi garam tahun mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan untuk kegatan perikanan. Luas lahan garam di Lamongan tahun 2015 mencapai 213 ha, semntara tahun ini tinggal 200 ha.

Harga garam saat ini sebesar Rp 500 perkilogram. Harga ini termasuk tinggi karena biasanya hanya sebesar Rp 200 perkilogram, bahkan jika produksi banyak bisa hanya  mencapai Rp 150 perkilogram. Sedangkan untuk kualitas, garam di Kabupaten Lamongan termasuk dalam garam KW 1 yang biasanya digunakan dalam rintisan produksi.

 

0 comments:

Post a Comment